Terungkap Penyebab Harga Cabai Meroket, Petani Enggan Panen Karena Hujan

republika.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional Bapanas Sarwo Edhy menyebut keengganan petani memanen saat musim hujan menjadi pemicu lonjakan harga cabai rawit dalam beberapa waktu terakhir. Faktor cuaca membuat pasokan tersendat dan harga sempat menembus di atas Rp100 ribu per kilogram.

Ia menyampaikan harga pangan secara umum relatif stabil. Cabai rawit menjadi pengecualian, meski kini mulai menunjukkan tren penurunan seiring masuknya panen di sejumlah sentra produksi.

Baca Juga
  • Geopolitik Bergejolak, Mentan Amran Pastikan Stok Pangan Nasional Aman
  • Ramadhan Bukan Halangan untuk Ketahanan Pangan
  • Jaga Daya Beli, Pemerintah Percepat Penyaluran Bantuan Pangan

“Para petani kan biasanya enggan memanen ketika musim hujan. Karena kalau musim hujan dipanen, itu biasanya busuk. Nah itu kendalanya,” kata Sarwo Edhy di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Ia menjelaskan saat hujan turun, risiko kerusakan meningkat sehingga petani memilih menunggu cuaca membaik. Ketika tidak hujan, panen dilakukan hingga malam hari agar komoditas bisa segera dikirim ke pasar induk maupun pasar langganan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Langkah tersebut mulai berdampak pada harga di tingkat eceran. Harga yang sempat berada di atas Rp100 ribu per kilogram kini turun bertahap.

“Sehingga harga sekarang itu sudah mulai turun. Kalau pekan depan mungkin ada yang di atas Rp100 ribu, sekarang sudah Rp90 ribu, saya dengar tadi pagi sekitar Rp70 ribu,” ujar Sarwo Edhy.

Di tingkat pengecer, harga berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram. Di Pasar Induk Kramat Jati, harga berkisar Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram. Harga acuan pemerintah untuk cabai rawit berada di angka Rp57 ribu per kilogram dan menjadi rujukan stabilitas harga di pasar.

“Harga normalnya Rp57 ribu. Harga acuan pemerintah. Harga pembelian pemerintah itu Rp57 ribu. Memang untuk cabai rawit merah ini agak tinggi,” ucapnya.

Panen raya diproyeksikan berlangsung pada pekan ketiga Ramadhan. Sentra produksi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat menjadi penopang utama pasokan dalam beberapa pekan ke depan.

“Pekan ketiga puasa ini sudah mulai panen raya. Itu informasi dari Dirjen Hortikultura,” kata Sarwo Edhy.

Bapanas menyiapkan fasilitasi distribusi jelang Lebaran jika terjadi lonjakan harga di wilayah defisit. Skema tersebut dilakukan atas permintaan pemerintah daerah agar harga di sentra produksi dan daerah tujuan tetap seimbang.

Pasokan dari luar Jawa, termasuk dari Aceh ke Jakarta, masih berjalan. Pemerintah terus memantau pergerakan harga agar penurunan berlangsung konsisten dan mendekati harga acuan sebelum Lebaran.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Staf TU SMP di Bekasi Diduga Lecehkan Siswa, Kini Dibebastugaskan
• 6 jam laludetik.com
thumb
Gempa Magnitudo 5,0 Guncang Maluku Barat Daya, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
• 15 jam lalusuara.com
thumb
Pengamat Sebut Eksodus Elite Bukti Loyalitas ke Parpol Kian Kendur
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Dunia Memanas: Rusia, China, dan Korea Utara Kutuk Serangan AS-Israel ke Teheran
• 7 jam lalusuara.com
thumb
Polisi Amankan 2 Ekskavator Diduga untuk Tambang Ilegal di Sumut: Resahkan Warga
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.