jpnn.com, JAKARTA - Gelombang perpindahan politisi senior ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tak bisa lagi dibaca sebagai manuver biasa menjelang Pemilu 2029.
Di balik istilah 'Kandang Gajah' yang terdengar ringan, tersimpan kalkulasi kekuasaan yang serius dan terukur.
BACA JUGA: Borneo FC Umumkan Pelatih Baru, Ungkap Alasan Pecat Pieter Huistra
Demikian disampaikan pengamat hukum dan politik Dr Pieter C Zulkifli, SH., MH, merespons perpindahan sejumlah politisi senior ke PSI.
Dia menyebut fenomena ini memperlihatkan bagaimana loyalitas politik kian lentur ketika berhadapan dengan peluang elektoral dan orbit figur besar.
Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini juga menelisik secara tajam apakah eksodus tersebut mencerminkan konsolidasi demokrasi yang sehat atau justru sekadar migrasi pragmatis elite.
"Apakah PSI sedang membangun institusi modern yang terbuka dan antikorupsi, atau hanya menjadi kendaraan baru dalam peta realisme kekuasaan nasional? Eksodus politisi senior ke PSI menandai babak baru realisme kekuasaan, ujian bagi 'Kandang Gajah' antara strategi elektoral dan integritas," kata Pieter Zulkifli dalam keterangannya, Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Pieter Zulkifli menilai migrasi politisi senior ke PSI dalam dua tahun terakhir bukan sekadar kabar pindah partai.
Dia berpandangan hal ini sebagai gejala politik yang memperlihatkan bagaimana realisme kekuasaan bekerja lebih dominan ketimbang romantisme ideologis.
Dari Ahmad Ali, Bestari Barus, Rusdi Masse Mappasessu, hingga Nina Agustina, satu per satu nama dengan rekam jejak panjang di partai mapan memilih berlabuh ke partai berlambang gajah yang belum pernah lolos ke Senayan.
“Apa yang sesungguhnya terjadi? PSI menyebut strategi ini sebagai pembangunan 'Kandang Gajah' sebuah metafora untuk menjadikan wilayah tertentu sebagai basis kekuatan baru. Namun, di balik istilah yang jenaka itu, tersimpan kalkulasi serius, membangun daya saing elektoral 2029 dengan menggabungkan energi muda dan pengalaman elite lama," katanya.
Dia mengamini bila faktor Joko Widodo yang menjadi magnet utama politisi itu berlabuh ke PSI.
Sejumlah analis membaca migrasi ini sebagai 'Jokowi Effect' jilid dua bukan lagi dalam kapasitas sebagai petahana, melainkan sebagai jangkar elektoral pascakepresidenan.
Menurutnya, dalam sejarah politik Indonesia, figur mantan presiden kerap menjadi episentrum loyalitas baru.
Misalnya, Megawati Soekarnoputri identik dengan PDIP, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Demokrat. Kini, publik membaca kemungkinan orbit baru di sekitar PSI.
Namun, kata dia, menyederhanakan eksodus ini hanya sebagai efek figur tentu terlalu dangkal.
Bagi Pieter Zulkifli, ada dimensi lain seperti kejenuhan struktural di partai lama, keterbatasan ruang manuver, dan ambisi personal yang mencari kendaraan lebih prospektif.
“Seperti pernah diingatkan oleh Winston Churchill, 'In politics, there are no permanent friends, only permanent interests'. Politik adalah arena kepentingan yang bergerak; kesetiaan sering kali tunduk pada peluang," katanya.
“Di titik inilah PSI menghadapi paradoks. Di satu sisi, masuknya politisi senior memperkuat legitimasi dan infrastruktur partai. Pengalaman Rusdi Masse membesarkan mesin politik di Sulawesi Selatan, misalnya, bukan modal kecil," timpalnya.
Di sisi lain, Pieter Zulkifli mengatakan terlalu banyak 'darah lama' berpotensi mengikis identitas awal PSI sebagai partai alternatif anak muda yang anti-oligarki.
Dia berpendapat strategi 'Kandang Gajah' akan efektif bila tidak berhenti pada rekrutmen simbolik.
“Partai membutuhkan manajemen modern, tata kelola transparan, dan sistem kaderisasi yang meritokratis. Masuknya politisi kawakan justru harus menjadi momentum profesionalisasi partai, bukan sekadar ekspansi elektoral. Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji," kata dia
Dia melanjutkan mengelola partai politik (parpol) modern yang baik menuntut penerapan prinsip good party governance, meliputi transparansi keuangan, sistem kaderisasi berbasis merit, dan demokrasi internal yang sehat.
Partai harus profesional, memanfaatkan data terkini untuk pemetaan konstituen, serta konsisten melakukan pendidikan politik dan penyerapan aspirasi publik guna membangun kepercayaan jangka panjang.
Di samping dari itu, Pieter Zulkifli mengingatkan banyaknya elite ke PSI justru berpotensi melahirkan faksi-faksi dan menghambat kerja mesin partai bila tak ada kompetensi dan tidak memahami manajemen parpol.
Dia menyatakan kaderisasi tanpa pendidikan politik yang memadai dan sistem rekrutmen yang keliru hanya akan menghasilkan struktur gemuk tetapi rapuh, membuat kerja elektoral berjalan lambat dan tidak solid.
"Tanpa disiplin organisasi dan standar kinerja yang terukur, ekspansi justru bisa berubah menjadi beban internal," ucapnya.
Dia juga menyebut sosok Kaesang Pangarep sebagai ketua umum memikul beban ganda, yakni membuktikan bahwa PSI bukan hanya perpanjangan bayang-bayang keluarga politik, tetapi institusi yang berdiri di atas tata kelola yang akuntabel.
“Seperti dikatakan Peter Drucker, 'Management is doing things right; leadership is doing the right things'. PSI memerlukan keduanya, manajemen yang rapi dan kepemimpinan yang bernilai.
Lebih jauh, eksodus elite ini membuka peluang emas bagi PSI untuk menata diri sebagai partai demokratis dan terbuka," kata dia.
Pieter Zulkifli menambahkan banyaknya latar belakang kader menuntut mekanisme internal yang sehat, seperti perbedaan pandangan harus dikelola lewat forum deliberatif, bukan kompromi transaksional.
Dia lantas menyinggung pernyataan Jokowi yang pernah mengingatkan soal pentingnya toleransi dan satu visi ketika partai makin inklusif.
Menurutnya, pesan itu bukan basa-basi melainkan peringatan dini terhadap friksi internal.
“Jika PSI gagal mengelola keberagaman kepentingan, 'Kandang Gajah' bisa berubah menjadi arena tarik-menarik faksi. Tetapi jika dikelola profesional, partai ini berpeluang melompat dari partai pinggiran menjadi kekuatan papan tengah dalam satu siklus pemilu," kata dia.
Pieter Zulkifli menekankan PSI harus menjadi partai yang tak memberikan ruang kompromi terhadap korupsi. Rekrutmen elite lama pun harus dibarengi komitmen etika yang keras.
"PSI sejak awal membangun citra antikorupsi; kini ujian sesungguhnya dimulai. Seperti dikatakan Nelson Mandela, 'A good head and a good heart are always a formidable combination'. Politik tanpa moral hanyalah kalkulasi kosong," katanya.
Di akhir pernyataannya, Pieter Zulkifli mengatakan migrasi kader senior pada akhirnya adalah refleksi dari politik Indonesia yang semakin cair. Loyalitas tidak lagi sepenuhnya ideologis, melainkan strategis.
Dalam lanskap seperti ini, partai yang mampu membaca arah angin sekaligus menjaga kompas moral akan bertahan.
Dia berpandangan PSI sedang mencoba mendayung dua kepentingan sekaligus: memperkuat eksistensi elektoral dan merawat pengaruh figur besar di belakangnya.
"Apakah langkah ini akan membawa mereka menembus parlemen pada 2029? Jawabannya bergantung pada satu hal: apakah 'Kandang Gajah' hanya proyek elektoral jangka pendek atau fondasi partai modern yang demokratis, terbuka, dan tegas mengharamkan korupsi dalam segala bentuk," kata dia.
“Di situlah pertaruhan sesungguhnya. Bukan sekadar berapa banyak elite yang pindah rumah, melainkan seberapa jauh PSI mampu membangun rumah yang layak dihuni demokrasi," ujar Pieter Zulkifli.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




