JAKARTA, DISWAY.ID - Wakil Menteri Hak Asasi Manusia, Mugiyanto melaporkan secara langsung dari kondisi di Bandara Internasional Hamad, Doha, mulai menunjukkan penumpukan penumpang yang signifikan.
Mugiyanto mengungkapkan, informasi dari Duta Besar RI untuk Qatar, Ridwan Hassan, mencatat ada lebih dari 100 warga negara Indonesia (WNI) yang kini nasibnya terkatung-katung di bandara tersebut.
BACA JUGA:Majelis Hukama Muslimin: Ketahanan Keluarga Fondasi Utama Peradaban
BACA JUGA:Perda KTR DKI Dinilai Jadi Penengah Kesehatan dan Ekonomi, IVENDO: Jangan Melarang Total Rokok!
"Kami sudah memasuki hari ketiga terdampar di Doha. Situasinya masih belum kondusif. Belum ada kepastian kapan ruang udara di Qatar dan negara-negara sekitar akan dibuka kembali," ujar Mugiyanto dari video yang diterima oleh Disway, Selasa 3 Maret 2026.
Namun, krisis ini ternyata tidak hanya terlokalisasi di Qatar. Dampak serangan militer ini menjalar bak efek domino ke negara-negara tetangga.
Laporan yang diterima pihak kementerian menunjukkan bahwa ratusan WNI lainnya mengalami nasib serupa di berbagai titik transit utama.
"Bukan cuma di Doha. Ada puluhan, bahkan mungkin ratusan WNI kita yang juga terdampar di Uni Emirat Arab (Dubai), Kuwait, Arab Saudi, hingga Bahrain. Kita semua tidak bisa terbang, semua perjalanan terkunci," tegasnya.
BACA JUGA:Prabowo Bikin Acara Kumpul Mantan Presiden di Istana, Jokowi Konfirmasi Hadir
BACA JUGA:PIP Tetap 20 Juta Penerima, TK Gratis serta Bantuan Masuk Prioritas Nasional
Lebih jauh, Mugiyanto menyoroti kondisi psikologis dan keamanan para WNI yang bermukim di wilayah terdampak. Menurutnya, rasa aman kini menjadi barang mewah. Di beberapa titik, otoritas setempat bahkan telah memberlakukan pembatasan gerak yang sangat ketat.
"Kita punya persoalan dengan rasa aman. Bahkan di tempat kami berada sekarang, ada instruksi tegas untuk tidak keluar rumah. Semuanya terdampak secara langsung oleh situasi militer ini," tambah Mugiyanto.
Di tengah suasana mencekam tersebut, ia meminta keluarga di tanah air untuk tetap tenang namun waspada. Pemerintah melalui jajaran Kedutaan Besar di masing-masing negara terus berupaya melakukan mitigasi dan perlindungan.
"Kami berharap perdamaian segera terwujud dan ruang udara segera dipulihkan. Untuk warga kita di sini, mohon tetap tenang dan ikuti seluruh arahan serta kebijakan dari Bapak-bapak Duta Besar dan otoritas setempat," pungkasnya.





