Ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang semakin memanas dan melebar kepada wilayah Timur Tengah lain dapat berdampak pada kenaikan harga minyak mentah yang akan merembet kepada harga BBM di seluruh negara.
Iran memutuskan menutup Selat Hormuz, jalur logistik yang sangat penting bagi distribusi komoditas energi global, dan mengancam 20 persen pasokan minyak mentah global. Selain itu, serangan drone Iran juga mengakibatkan penutupan fasilitas minyak Arab Saudi.
Pada penutupan Senin (2/3), harga minyak mentah Brent berjangka sempat naik hingga 13 persen menjadi USD 82,37 per barel, hingga ditutup naik 6,7 persen menjadi USD 77,74 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada USD 71,23, naik 6,3 persen.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, mengatakan terdapat beberapa skenario dengan asumsi Israel menghancurkan infrastruktur di Iran dan kemungkinan disrupsi ekonomi terhadap rantai pasok minyak regional dan global, serta Iran melakukan retaliasi dengan menggunakan serang melalui Hizbullah atau Hothis.
Yayan menjelaskan, dampak skenario dengan Penutupan Selat Hormuz (Hormuz Closed Scenario) akan sangat mempengaruhi 25 persen lebih tinggi pada harga minyak mentah, dibandingkan Tanpa Penutupan Selat Hormuz (Hormuz Open Scenario).
"Artinya bahwa kemungkinan kenaikan harga BBM bagi Indonesia yang mengimpor minyak dari wilayah Timur Tengah yang kurang lebih 90 persen, tanpa penutupan selat Hormuz harga BBM akan naik menjadi 10-25 persen. Sedangkan dengan penutupan selat Hormuz Harga BBM bisa naik bisa lebih dari 25 persen," ungkapnya saat dihubungi kumparan, Selasa (3/3).
Pertama, dengan prediksi Selat Hormuz tetap terbuka oleh Iran, kemungkinan kenaikan harga 0-25 persen akan terjadi sebesar 80 persen, sehingga kemungkinan harga minyak berada di level USD 97.5/bbl selama pekan ini akan terjadi.
Sedangkan jika Iran menutup Selat Hormuz, kata dia, maka harga minyak mentah akan naik menjadi 50 persen terjadi pada 4-5 hari ke depan, dan bisa mencapai USD 117/bbl pada pekan depan bahkan bisa mencapai langsung USD 90-100/bbl beberapa hari mendatang.
Dengan demikian, dia memprediksi harga BBM non subsidi di Indonesia bisa terkerek hingga 25 persen, meskipun pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) akan menahan kenaikan harganya karena terdapat keuntungan lain yang bisa didapat negara dari kondisi saat ini.
"Penyesuaian harga BBM untuk non subsidi, pasti akan dilakukan, dengan harga bisa di 10-25 persen, tapi mudah-mudahan Pertamina bisa meng-cap 5-10 persen, karena Indonesia memperoleh windfall profit PNBP karena menjual minyak Indonesia," jelas Yayan.
Sebelumnya, harga BBM nonsubsidi Pertamina mengalami kenaikan per 1 Maret 2026. Kenaikan ini berlaku untuk Pertamax hingga Pertamina Dex.
Harga Pertamax untuk Jakarta dan beberapa wilayah di Jawa-Bali serta Nusa Tenggara naik menjadi Rp 12.300 per liter. Angka ini naik Rp 500 dari Rp 11.800 per liter. Pertamax Turbo dipatok pada harga Rp 13.100 per liter, angka ini naik Rp 400 dari harga sebelumnya Rp 12.700 per liter. Pertamax Green turut naik menjadi Rp 12.900 per liter dari Rp 12.450 per liter.
Sementara untuk Dexlite, harganya naik menjadi Rp 14.200 per liter dari Rp 13.250 per liter Pertamina Dex juga naik menjadi Rp 14.500 per liter dari Rp 13.500 per liter. Namun harga BBM subsidi, Pertalite dan Solar, tidak mengalami perubahan.





