Bermacam koran dari berbagai media nasional hingga lokal berjajar di pagar tembok sebuah rumah tua di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (3/3).
Koran-koran itu, beberapa di antaranya tak lagi aktual. Terbitan lawas berhari-hari lalu tetap terpajang. Contohnya, salah satu koran nasional terbitan 28 Februari lalu.
Di timur deretan koran, spanduk berwarna putih bertuliskan "Koran Al-Amin" terpasang. Spanduk itu memuat harga tiap-tiap koran yang dijual.
Sementara itu, sebuah sepeda onthel hitam bersandar di tembok pagar, tepat di bawah spanduk. Sepeda itu milik Sugianto. Pria berusia 50-an tahun itu setiap hari mengayuh sepeda onthel menuju tempat kerjanya untuk berjualan koran.
Siang itu, cuaca Yogyakarta sedikit bersahabat. Hujan yang saban hari turun kali ini tak muncul. Cuaca sempat terik, meski kemudian mendung menggelayut di langit.
Di tengah riuhnya jalan protokol, koran-koran yang ditawarkan Sugianto tetap sepi. Kondisi yang telah ia rasakan beberapa tahun belakangan. Dulu, koran menjadi andalan penghidupan, kini sekadar untuk bertahan.
"Saya jualan sejak 90-an," kata Sugianto membuka perbincangan.
Meski berpindah-pindah titik, tempatnya "ngantor" tetap di Jalan Jenderal Sudirman.
"Ada penggusuran, saya pindah ke sini. Di sini diizinkan. Di sini saya bongkar pasang (tidak ada lapak). Kalau sudah selesai, korannya dibawa pulang," kata pria yang beralamat di Gondolayu, Kota Yogyakarta, ini.
Pada 1990-an hingga 2000-an menjadi masa kejayaan koran. Tuah itu juga menetes kepada pedagang dan loper koran.
"Pembeli banyak. Langganan juga banyak," katanya.
Dahulu, koran pagi pada siang harinya sudah habis. Saat ini, koran pagi pun kadang hingga sore masih belum terjual. Sementara itu, dengan sistem saat ini, koran yang sudah dibeli pedagang tak bisa dikembalikan ke percetakan.
"Saya tumpuk (koran) di rumah banyak. Majalah-majalah pun banyak. Numpuk di rumah, ya rugi," katanya.
Terlepas dari kondisi sulit yang dialaminya sekarang, Sugianto mengatakan berkat koran dirinya bisa menghidupi keluarganya. Ketiga anaknya berhasil lulus sekolah sampai SMA dan saat ini sudah mandiri.
"Dulu bisa buat macam-macam. Anak saya tiga sudah mandiri semua. Sudah kerja semua. Sekolah sampai SMA," katanya.
Kini, dalam sehari pendapatan kotor Sugianto sekitar Rp 50-70 ribu.
"Untungnya ya nggak tahu. Iya, cukup buat makan saja," katanya.
Koran laris hingga sekitar tahun 2015. Ketika ponsel pintar semakin marak, pembaca beralih dari koran fisik ke digital.
Sugianto mengatakan dirinya tetap mempertahankan koran lama dengan harga yang lebih murah daripada saat pertama kali terbit. Menurutnya, masih ada beberapa orang yang sengaja datang untuk mencari koran lama.
Sama seperti koran-koran yang menanti dibaca, Sugianto akan tetap setia menunggu pembaca. Dari panas yang bikin gerah hingga hujan yang membuatnya repot menutupi dagangannya dengan plastik-plastik.
Sugianto akan tetap konsisten berjualan dari pukul 08.00 sampai 16.00 WIB di salah satu jalan teramai di Kota Pendidikan.




