Lebih dari Rp208 triliun nilai ekonomi berputar di Daerah Istimewa Yogyakarta sepanjang 2025. Dalam struktur sebesar itu, setiap kenaikan satu persen pertumbuhan setara dengan tambahan lebih dari Rp2 triliun aktivitas ekonomi baru.
Angka inilah yang menjelaskan mengapa momentum Ramadan dan Lebaran bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari mesin riil penggerak ekonomi daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi DIY tumbuh 5,49 persen secara kumulatif sepanjang 2025 (c-to-c), tertinggi di Pulau Jawa. DIY melampaui Jawa Barat (5,41 persen), Jawa Timur (5,28 persen), Banten (5,15 persen), DKI Jakarta (5,06 persen), dan Jawa Tengah (4,98 persen).
Pada triwulan IV-2025, pertumbuhan DIY bahkan mencapai 5,94 persen secara tahunan.
Namun pertumbuhan tinggi ini tidak berdiri di atas konsumsi semata. Sepanjang 2025, komponen investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga mencatat kenaikan signifikan.
Proyek-proyek infrastruktur strategis, termasuk pembangunan Tol Solo–Yogyakarta yang meningkatkan konektivitas wilayah, mempercepat arus barang dan manusia.
Infrastruktur baru membuat akses menuju DIY semakin mudah, memperluas pasar wisata, serta meningkatkan daya tarik investasi.
Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Y Sri Susilo, menilai kombinasi antara fondasi infrastruktur dan karakter ekonomi berbasis jasa menjadi kunci.
Menurutnya, infrastruktur memperbesar kapasitas ekonomi, sementara konsumsi dan wisata mengisi kapasitas tersebut.
“Infrastruktur seperti tol mempercepat konektivitas dan memperluas jangkauan wisatawan. Ketika akses makin mudah, frekuensi kunjungan meningkat. Di daerah seperti DIY yang ekonominya berbasis jasa dan pariwisata, efeknya langsung terasa,” ujarnya.
Struktur ekonomi DIY yang bertumpu pada jasa, perdagangan, pariwisata, serta industri makanan dan minuman membuat konsumsi rumah tangga tetap menjadi tulang punggung PDRB.
Dalam tiga tahun terakhir, Ramadan dan Lebaran konsisten menjadi pengungkit pertumbuhan pada triwulan I dan II.
Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono, menjelaskan bahwa selama Ramadan terjadi peningkatan signifikan konsumsi masyarakat, terutama pada makanan dan minuman, pakaian menjelang Lebaran, serta mobilitas transportasi.
Ketika memasuki masa libur Lebaran, arus mudik dan wisata memperbesar efek tersebut.
Lonjakan itu terasa nyata di lapangan. Okupansi hotel meningkat, pusat kuliner ramai, UMKM oleh-oleh mengalami kenaikan omzet, dan pasar tradisional seperti Beringharjo mencatat aktivitas perdagangan yang jauh lebih tinggi dibanding hari biasa.
Setiap transaksi yang terjadi menjadi bagian dari akumulasi triliunan rupiah yang menopang PDRB DIY.
Secara historis, pada triwulan I 2024 dan 2025, ekonomi DIY tumbuh masing-masing 5,04 persen dan 5,11 persen (y-on-y), menjadi yang tercepat di Jawa pada periode tersebut.
Artinya, momentum Lebaran bukan anomali, melainkan pola berulang yang konsisten mendorong ekonomi awal tahun.
Ekonom UMY, Achmad Maruf, menambahkan bahwa infrastruktur yang semakin baik memperbesar efek Lebaran terhadap ekonomi. Menurutnya, tanpa konektivitas yang memadai, lonjakan wisata tidak akan optimal.
“Lebaran itu akselerator. Tapi akselerator bekerja maksimal kalau fondasinya kuat. Infrastruktur, keamanan, stabilitas harga, dan kesiapan sektor wisata menjadi faktor penting agar perputaran ekonomi bisa optimal,” ujarnya.
Dengan fondasi investasi dan infrastruktur yang menguat sepanjang 2025, serta siklus konsumsi Ramadan–Lebaran yang konsisten mendorong pertumbuhan, DIY memasuki 2026 dengan posisi yang relatif solid.
Pencairan THR, libur panjang, dan arus wisata domestik berpotensi kembali menggerakkan perputaran ekonomi dalam skala triliunan rupiah.
Lebaran dalam konteks DIY bukan hanya perayaan tahunan. Ia adalah titik temu antara fondasi infrastruktur yang memperkuat kapasitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang menggerakkan konsumsi.
Ketika keduanya berjalan beriringan, pertumbuhan tinggi bukan sekadar angka statistik, melainkan hasil nyata dari struktur ekonomi yang terus bertumbuh.





