Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Central Asia (ACA) mencatat pendapatan premi asuransi kendaraan bermotor meningkat 10% (year on year/YoY) sepanjang 2025.
Kepala Divisi Asuransi Kendaraan Bermotor ACA Teguh Imanjaya mengatakan bahwa perolehan premi asuransi kendaraan bermotor 2025 mencapai Rp1,1 triliun. Nilainya tumbuh dari realisasi 2024 senilai Rp998 miliar.
“Secara portofolio premi kendaraan bermotor berkontribusi sebesar 18% terhadap total portofolio bisnis perusahaan,” ucapnya kepada Bisnis, Senin (2/3/2026) malam.
Teguh menyampaikan bahwa kenaikan premi tidak lepas dari kontribusi saluran distribusi yang kompak mengalami kenaikan. Dari distribusi agen naik 32%, broker naik 239%, dan dealer naik 38%.
Untuk tetap menjaga dan mendongkrak pertumbuhan premi asuransi kendaraan bermotor, ACA menerapkan tiga langkah strategis. Pertama, menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan nasabah terkini dan mampu bersaing dengan produk kompetitor.
“Kedua, memberikan kemudahan proses klaim yang didukung oleh infrastruktur mumpuni. Ketiga, memperkuat kolaborasi dengan mitra bisnis melalui komunikasi rutin dan responsif,” kata Teguh.
Baca Juga
- Konsorsium Asuransi Kredit Pinjol, Ada Asei dan ACA
- Asuransi Marine Cargo hingga Travel jadi Produk Paling Terdampak Perang AS-Israel vs Iran
Di lain sisi, dia turut mengungkapkan tren klaim asuransi kendaraan bermotor ACA pada 2025 juga mengalami kenaikan sebesar 16% YoY menjadi Rp391 miliar.
“Kenaikan ini dikarenakan adanya kejadian banjir di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Bali dan Sumatera, dengan nilai kerugian yang cukup signifikan,” bebernya.
Kendati demikian, ACA optimistis prospek asuransi kendaraan bermotor pada 2026 ini masih dapat tumbuh positif. Sebab itu, perusahaan juga menargetkan pertumbuhan premi lini ini sebesar 20%.
“Lini asuransi kendaraan bermotor tetap menjadi salah satu kontributor pendapatan terbesar bagi perusahaan,” tutupnya.
Sebagai informasi, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat pendapatan premi asuransi kendaraan bermotor mengalami kontraksi 4,2% YoY menjadi Rp19,01 triliun dari Rp19,85 triliun sepanjang 2025.
Sementara itu, klaim yang dibayarkan juga ikut mengalami penurunan sebesar 2,4% YoY menjadi Rp7,52 triliun dari Rp7,71 triliun per akhir 2025.





