Penulis: Riadatussholihah
TVRINews-Lombok Timur
Pemerintah daerah memastikan stok awal musim tanam tetap terjaga meski terkendala faktor logistik dan cuaca buruk.
Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Pulau Lombok dalam sepekan terakhir mulai berdampak pada jalur logistik sektor pertanian. Distribusi pupuk bersubsidi ke sejumlah titik di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan mengalami keterlambatan akibat gangguan transportasi.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut menghambat pergerakan armada pengangkut, baik di jalur darat maupun penghubung laut. Meski demikian, otoritas setempat menegaskan bahwa ketahanan stok pangan di level akar rumput masih berada dalam zona aman untuk mengawali musim tanam tahun ini.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, Darajata, mengonfirmasi adanya kendala teknis dalam rantai pasok tersebut.
Namun, ia memastikan ketersediaan di gudang penyangga dan kios resmi masih mampu memenuhi permintaan petani.
"Distribusi memang terhambat curah hujan tinggi dan kendala transportasi. Namun, untuk fase awal musim tanam, cadangan pupuk di gudang maupun kios resmi masih mencukupi kebutuhan," ujar Darajata pada Selasa 3 maret 2026.
Sebagai langkah mitigasi terhadap potensi krisis pasokan, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur telah menginstruksikan pihak distributor untuk memperkuat cadangan penyangga. Hal ini bertujuan agar stabilitas harga dan ketersediaan barang tetap terjaga jika cuaca buruk terus berlanjut.
Pemerintah mendorong setiap distributor untuk menyiagakan stok minimal 20 ton. Langkah ini diambil guna mencegah kekosongan di tingkat pengecer yang berisiko mengganggu produktivitas lahan pertanian warga.
"Kami akan melakukan evaluasi berkala dan pengawasan ketat terhadap ketersediaan stok di lapangan," tambah Darajata. Ia juga mengimbau para petani agar melakukan penebusan pupuk sesuai dengan regulasi Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).
Di tingkat produsen, sejumlah petani melaporkan bahwa sejauh ini mereka belum merasakan dampak signifikan dari keterlambatan distribusi tersebut. Di Desa Paok Pampang, Kecamatan Sukamulia, aktivitas penebusan pupuk dilaporkan masih berjalan normal.
Kamaruddin, salah seorang petani setempat, menyatakan bahwa akses terhadap pupuk bersubsidi musim ini relatif lebih mudah dibandingkan periode sebelumnya.
"Sejauh ini distribusi lancar dan kami menebus sesuai alokasi. Tidak ada kewajiban membeli secara paket, yang tentu sangat membantu meringankan beban petani," ungkap Kamaruddin.
Ia juga menambahkan bahwa harga di tingkat petani masih stabil sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Pupuk jenis urea, misalnya, tetap diperdagangkan pada kisaran Rp180.000 per kuintal. Kondisi yang kondusif ini memberikan optimisme bagi para petani untuk mencapai target produksi maksimal pada musim panen mendatang.
Editor: Redaksi TVRINews





