KUPANG, KOMPAS - Angin kencang disertai hujan deras dalam durasi singkat menerjang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur selama beberapa hari terakhir. Dua kapal feri, yakni KMP Pulau Sabu dan KMP Sirung, yang masing-masing dengan bobot mati lebih dari 1.000 gross tonnage pun terseret dari Pulau Semau ke pesisir Kota Kupang.
Berdasarkan pantauan Kompas pada Selasa (3/3/2026), dua kapal pengangkut penumpang, barang, serta kendaraan itu terdampar di pesisir Kelurahan Alak, Kota Kupang. Dua kapal itu kandas di atas pasir dengan dinding menghantam batu karang yang terdiri di pesisir pantai.
Dua kapal itu sebelumnya lego jangkar di Pelabuhan Hansisi, Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Ketika terjadi angin kencang pada Senin, tali jangkar terlepas sehingga membuat kapal hilang kendali. "Padahal Pelabuhan Hansisi berada di teluk yang relatif aman dari angin," kata Naldo (40), salah seorang saksi mata.
Setelah tali jangkar terlepas, dua kapal itu terseret angin dan arus dari arah barat menuju sisi timur laut. Penjaga yang berada di kapal tidak berdaya. Di kapal, tidak ada petugas mesin maupun juru mudi yang bisa mengarahkan kapal. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.
Kapal terus bergerak hingga kandas di pesisir Kota Kupang yang berjarak lebih kurang 3 mil laut atau 5,5 kilometer dari Pelabuhan Hansisi. Dua kapal itu menghantam batu karang dan tertanam di pesisir pantai. Beberapa sisi lambung kapal bocor.
Dua kapal tersebut milik PT Flobamora, perusahaan daerah di bawah Pemerintahan Provinsi NTT. Dalam beberapa bulan terakhir, dua kapal itu tidak berlayar karena alasan operasional. Hingga petang ini, pihak PT Flobamora belum memberikan pernyataan resmi.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi El Tari Kupang mengeluarkan peringatan dini mengenai cuaca buruk. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di sepanjang wilayah Pulau Timor dan dapat meluas ke sejumlah wilayah lainnya. Peringatan dini berlaku hingga dua hari ke depan.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang Sti Nenot'ek dalam keterangan tertulis menyampaikan, terjadi dinamika atmosfer skala regional yang memengaruhi kondisi cuaca di wilayah NTT. Selain itu, terbentuk dua sistem tekanan rendah di utara Australia yang membentuk bibit Siklon Tropis 93S dan bibit Siklon Tropis 27P.
Akibatnya, kata Sti, terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang dalam durasi singkat di sejumlah wilayah NTT. Kondisi ini dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi. Masyarakat pun diminta waspada.
Stasiun Maritim Tenau Kupang juga mengeluarkan peringatan dini mengenai tinggi gelombang. Tinggi gelombang laut mencapai 4 meter berpeluang terjadi di Laut Sawu, sisi utara Timor, dan selat antar Kupang dan Pulau Rote. Jalur perairan itu merupakan rute pelayaran cukup ramai di NTT.
Selain itu, diperingatkan juga mengenai potensi banjir rob di sejumlah pesisir. Ini dipicu oleh fenomena fase bulan purnama yang menyebabkan pasang maksimum. Hampir seluruh pesisir di NTT terdampak gelombang pasang tersebut.
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di sepanjang wilayah Pulau Timor dan dapat meluas ke sejumlah wilayah lainnya
Muhammad Mansyur Dokeng, Ketua Kelompok Nelayan di Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, mengatakan, akibat kondisi tersebut, nelayan dilarang melaut. Mereka sudah mengevakuasi perahu motor mereka ke balik hutan mangrove agar aman dari hantaman gelombang.
"Akibatnya, selama beberapa hari ini harga ikan melambung. Ikan yang dijual pun banyak yang tidak segar lagi. Itu ikan lama. Cuaca seperti ini bisa berlangsung sampai satu minggu ke depan," kata Mansyur.
Selain itu, warga pesisir juga sudah siaga menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Mereka dilatih melakukan evakuasi mandiri ketika terjadi badai atau banjir rob. Pengalaman pahit sebagai penyintas Badai Seroja pada 2021 membuat mereka selalu siaga.





