Inflasi Jakarta Terkendali di Tengah Kenaikan Harga Pangan

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Jakarta mencatat inflasi bulanan 0,63 persen pada Februari 2026, berbalik dari deflasi 0,23 persen sebulan sebelumnya. Meski demikian, inflasi dinilai tetap terkendali dan diperkirakan kembali normal pada April 2026.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jakarta, Iwan Setiawan, menjelaskan bahwa inflasi Jakarta pada Februari 2026 tetap terkendali meski harga pangan mengalami kenaikan. Angka inflasi juga masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,68 persen secara bulanan (month-to-month).

Sementara itu, secara tahunan (year-on-year) inflasi di Jakarta pada Februari 2026 mencapai 4,91 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen. Menurut Iwan, perbedaan ini dipengaruhi faktor base effect (efek dasar), mengingat inflasi pada Februari 2025 tercatat sangat rendah akibat kebijakan diskon tarif listrik.

”Tekanan ini diperkirakan bersifat sementara dan akan kembali normal pada April 2026,” kata Iwan di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan permintaan musiman menjelang Ramadhan serta gangguan produksi hortikultura akibat cuaca menjadi faktor utama pendorong inflasi di Jakarta.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat sebagai penyumbang terbesar, yakni dengan kenaikan 2,23 persen (mtm) setelah mengalami deflasi pada bulan sebelumnya. Komoditas yang paling dominan antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah.

Harga daging ayam juga meningkat seiring kenaikan harga ayam (live bird) di tingkat produsen. Sementara itu, hujan deras menyebabkan gangguan panen cabai dan bawang merah, bahkan memicu genangan lahan pada komoditas hortikultura seperti bayam.

Di luar pangan, ketidakpastian global turut mendorong kenaikan harga emas dunia yang berdampak pada emas perhiasan domestik. Inflasi emas perhiasan tercatat melonjak 9,61 persen (mtm), dengan harga rata-rata menembus Rp 2 juta per gram.

Baca JugaJakarta Jaga Inflasi di Tengah Tekanan Harga Emas dan Pangan

Meski demikian, inflasi Jakarta dinilai tetap terkendali karena lonjakan harga pangan diimbangi deflasi transportasi pasca-penyesuaian bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi serta upaya pengendalian oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang mengawasi pasokan, distribusi, dan harga kebutuhan pokok.

Menjelang hari besar keagamaan nasional, TPID Jakarta memperkuat koordinasi melalui pertemuan bersama Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta untuk memastikan kesiapan pasokan dan kelancaran distribusi, termasuk ke wilayah Kepulauan Seribu.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jakarta, Kadarmanto, menambahkan bahwa inflasi tahunan Jakarta pada Februari 2026 dipicu oleh kenaikan harga berbagai komoditas.

Kelompok pengeluaran yang dominan naik antara lain perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (naik 15,35 persen); perawatan pribadi dan jasa lainnya (14,92 persen); makanan, minuman, dan tembakau (3,12 persen); pendidikan (2,10 persen); serta penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,67 persen).

Sementara itu, kelompok yang mengalami penurunan indeks harga adalah transportasi (turun 0,47 persen) serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,04 persen). Komoditas utama penyumbang inflasi tahunan antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, beras, biaya sekolah, telur ayam ras, rokok kretek mesin, bayam, udang basah, minyak goreng, pepaya, dan donat.

Kadarmanto menambahkan, angka inflasi tahun kalender Jakarta (year-to-date) mencapai 0,4 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Februari 2025 yang justru mencatat deflasi tahunan 0,59 persen dan deflasi tahun kalender 1,79 persen, serta Februari 2024 dengan inflasi tahunan 2,12 persen dan inflasi tahun kalender 0,26 persen.

Adapun secara bulanan, inflasi Jakarta pada Februari 2026 tercatat 0,63 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi bulanan antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, bayam, cabai merah, kangkung, telur ayam ras, angkutan udara, dan rokok kretek mesin.

Baca JugaRokok dan Beras, Beban Sehari-hari Warga Miskin Jakarta

Sebaliknya, komoditas yang menahan inflasi bulanan antara lain bensin, pembersih lantai, telepon seluler, wortel, vitamin, bedak, alpukat, detergen cair, tarif jalan tol, dan pembalut wanita.

”Secara bulanan, inflasi Februari 2026 tercatat 0,63 persen, lebih tinggi dibanding Februari 2024 yang 0,45 persen, dan berbeda dengan Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,29 persen,” ujar Kadarmanto.

Waspada

Sementara itu, Gubernur Jakarta Pramono Anung menaruh perhatian pada potensi dampak eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)–Israel dengan Iran terhadap stabilitas harga pangan dan barang di Jakarta. Ia menilai konflik tersebut berisiko mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan biaya logistik internasional.

Menurut Pramono, salah satu titik krusial yang perlu diwaspadai adalah jalur distribusi di Selat Hormuz, yang menjadi lintasan utama perdagangan energi dunia.

”Karena pertama supply chain-nya ini kan melalui Selat Hormuz yang di situ hampir 30 persen lebih minyak dunia selalu melewati selat ini, termasuk juga barang-barang yang lain,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta telah menyiapkan mitigasi dengan mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), khususnya yang bergerak di sektor pangan. Pramono mengaku telah meminta jajaran BUMD agar bersiap dan mengadopsi pola pikir sadar krisis guna menjaga ketahanan pasokan.

Langkah ini dinilai penting agar Jakarta memiliki cadangan stok yang memadai apabila terjadi gangguan distribusi atau kelangkaan komoditas tertentu.

”Sehingga kalau ada kekurangan produk tertentu, kita sudah mempersiapkan langkah antisipasinya,” kata Pramono.

Ia mencontohkan, Pemprov Jakarta sebelumnya telah mendatangkan sekitar ribuan ekor sapi untuk menjaga stabilitas harga daging menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Melalui langkah tersebut, harga daging di pasar-pasar Jakarta tetap terkendali.

Pasar murah

Selain memperkuat stok pangan melalui BUMD, Pemprov Jakarta juga menggencarkan program pasar murah secara bergilir di 44 kecamatan selama Ramadhan. Salah satunya digelar di halaman Plaza Barat Kantor Wali Kota Jakarta Utara pada 2-3 Maret 2026.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Kota Jakarta Utara, Wawan Budi Rohman, mengatakan, pasar murah menjadi langkah konkret pemerintah dalam memastikan ketersediaan bahan pangan tetap aman dan terjangkau.

”Kami ingin memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi dengan harga yang wajar. Kami tidak hanya menekan gejolak harga, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi lokal,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Baca JugaInflasi Jakarta Terkendali, Kinerja Ekspor dan Impor Turun

Wawan menjelaskan, kerja sama dengan PT Food Station Tjipinang Jaya dan Perumda Dharma Jaya dilakukan agar distribusi pangan bersubsidi merata dan menjangkau lebih banyak warga. Pasar murah ini berlangsung pada 2–3 Maret 2026 dan direncanakan kembali digelar pada pekan depan.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dapat membeli berbagai kebutuhan pokok dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar. Harga ayam utuh dan daging sapi, misalnya, dijual mulai Rp 36.000 dan Rp 135.000 per kilogram.

”Harga ini relatif stabil di tengah tren kenaikan daging menjelang Ramadhan. Selain pegawai, banyak masyarakat sekitar yang memanfaatkan kegiatan ini untuk memenuhi kebutuhan pangan,” ujar Wawan.

Tak hanya menyediakan sembako, kegiatan ini juga diramaikan bazar takjil yang berlangsung 2–13 Maret 2026. Delapan pelaku UMKM dari enam Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pengampu dilibatkan dan berjualan secara bergantian setiap hari.

”Kami berharap kolaborasi lintas sektor ini mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memberdayakan ekonomi warga,” kata Wawan.

Di sisi lain, menghadapi kenaikan harga bumbu dapur utama seperti cabai dan bawang merah, sejumlah warga Jakarta mulai menyesuaikan menu harian keluarga selama Ramadhan. Untuk hidangan berbuka, sebagian memilih mengurangi masakan yang membutuhkan banyak cabai atau bawang, dan beralih ke menu alternatif yang lebih sederhana.

Erina (27), warga Jakarta Pusat, misalnya, kini lebih sering memasak olahan berkuah seperti sop sayur atau capcay sederhana dibandingkan menu bersantan dan pedas yang biasanya menjadi favorit keluarga. Menurut dia, selain lebih hemat, menu tersebut juga terasa lebih ringan untuk berbuka.

”Proses pembuatannya cepat, menenangkan lambung, tetapi tetap kaya rasa dan cukup mengenyangkan untuk menunjang aktivitas seharian berpuasa,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jaecoo Kejar Pengiriman 12 Ribu Unit J5 Sebelum Lebaran
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
THR ASN dan BHR Ojol Naik, Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi RI Melesat
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
BEI Bakal Intervensi Pakai Cara Ini Jika Emiten Tak Penuhi Free Float 15 Persen
• 39 menit laluidxchannel.com
thumb
THR ASN, TNI, Polri & Pensiunan Mulai Dibayarkan, Ojol Juga Dapat
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Kasus Dugaan Korupsi di Bea Cukai, KPK Buka Peluang Panggil Produsen Rokok dan Miras
• 18 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.