Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank SMBC Indonesia Tbk. (BTPN) atau SMBC Indonesia membukukan kerugian sebesar Rp102,12 miliar pada 2025 setelah pada tahun sebelumnya meraup laba bersih konsolidasian senilai Rp3,21 triliun.
Dalam Laporan Keuangan yang dipublikasikan, perseroan mencatat beban operasional lainnya meningkat 42,38% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp15,36 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,79 triliun.
Salah satu komponen nonbunga yang membengkak yakni impairment yang menanjak sebesar 107,95% YoY menjadi Rp8,08 triliun hingga akhir 2025. Tahun sebelumnya, impairment perseroan mencapai Rp3,89 triliun.
SMBC Indonesia juga mencatatkan sejumlah kenaikan di pos beban, termasuk beban tenaga kerja yang melonjak sebesar 13,87% YoY menjadi Rp5,52 triliun, setelah tahun sebelumnya membukukan beban senilai Rp4,85 triliun.
Adapun, laba operasional menyusut sebesar 85,92% YoY, dari Rp4,44 triliun pada 2024 menjadi Rp626,05 miliar pada akhir 2025. Perseroan juga mencatatkan rugi non operasional sebesar Rp344,72 miliar atau naik 5,68% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp326,21 miliar.
Laba tahun berjalan sebelum pajak juga menyusut sebesar 93,17% YoY menjadi Rp281,32 miliar, setelah pada tahun sebelumnya meraup laba senilai Rp4,12 triliun.
Meski demikian, SMBC Indonesia masih mencatatkan lonjakan pendapatan bunga bersih sebesar 4,94% YoY menjadi Rp15,99 triliun pada 2025 dari tahun sebelumnya Rp15,24 triliun. Pendapatan lainnya juga meningkat 15,55% YoY, dari 2024 sebesar Rp978,70 miliar menjadi Rp1,13 triliun pada 2025.
Adapun hingga akhir 2025, penyaluran kredit perseroan mencapai Rp175,03 triliun, meningkat 3,43% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp169,23 triliun.
Pada saat yang sama, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perseroan meningkat 7,98% YoY menjadi Rp131,00 triliun, setelah tahun sebelumnya mencapai Rp121,31 triliun.
Pertumbuhan DPK sepanjang 2025 ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin efisien, dengan nilai pendanaan berbasis dana murah (CASA) yang naik 16,74% YoY menjadi Rp53,22 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp45,58 triliun.





