Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov menegaskan Moskow belum melihat bukti bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir. Hal itu disampaikannya saat berada di Brunei pada Selasa (3/3)
Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) dan Israel menuding Iran mengembangkan senjata nuklir. Hal itulah yang mendasari keduanya melancarkan serangan udara ke Teheran sejak Sabtu (28/2).
Lavrov menyatakan klaim soal program senjata nuklir Iran tidak didukung bukti konkret.
“Kami masih belum melihat bukti bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir, yang menjadi alasan utama, bahkan satu-satunya, pembenaran perang ini,” katanya, seperti dilansir AlJazeera.
Lavrov juga menyoroti dampak luas dari serangan terhadap Iran. Menurutnya, konsekuensi konflik sudah dirasakan di seluruh kawasan, dengan negara-negara Arab menanggung biaya ekonomi serta jatuhnya korban jiwa.
Lebih jauh, Lavrov memperingatkan bahwa serangan AS dan Israel bisa memicu efek domino berbahaya.
Kepada AlJazeera, ia menilai bukan hanya Iran, tetapi juga negara-negara tetangganya bisa terdorong untuk mengejar kepemilikan senjata nuklir jika konflik terus meluas.
“Konflik yang semakin melebar di kawasan ini meningkatkan risiko proliferasi nuklir,” ujarnya.
Pernyataan Rusia ini menambah tekanan diplomatik di tengah memanasnya ketegangan Timur Tengah, yang kini tak hanya berisiko meluas secara militer, tetapi juga membuka babak baru perlombaan senjata di kawasan.





