Pantau - Mesir dan Irak menyerukan deeskalasi regional guna mencegah Timur Tengah jatuh ke dalam krisis yang lebih luas menyusul meningkatnya ketegangan akibat serangan udara dan balasan militer di kawasan tersebut.
Berita ini dipublikasikan pada Selasa, 3 Maret 2026 pukul 13:37 WIB dengan waktu baca 2 menit.
Ilustrasi berita menampilkan orang-orang menghadiri demonstrasi menentang serangan AS-Israel terhadap Iran di Baghdad, Irak, Sabtu 28 Februari 2026.
Seruan Tegas Mesir kepada Negara-Negara Arab dan IranMenteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty pada Senin 2 Maret menyerukan agar deeskalasi ketegangan regional segera diterapkan guna mencegah Timur Tengah terjerumus ke dalam "kekacauan total.".
Pernyataan tersebut disampaikan Abdelatty dalam panggilan telepon terpisah dengan para mitra setaranya di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Oman, Bahrain, Yordania, dan Irak, menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Mesir.
Diskusi dalam percakapan tersebut berfokus pada perkembangan yang cepat dan berbahaya di kawasan serta serangan-serangan Iran yang terus berlanjut terhadap sejumlah negara.
Abdelatty menegaskan kembali solidaritas penuh Mesir terhadap negara-negara Arab.
Ia juga mengecam "serangan yang tidak dapat diterima dan tidak beralasan.".
Mesir menyatakan dukungan penuh terhadap kedaulatan, keamanan, stabilitas, dan integritas teritorial negara-negara Arab.
Abdelatty menekankan perlunya Iran segera menghentikan serangan terhadap negara-negara Arab.
Ia mendesak semua pihak untuk "menahan diri semaksimal mungkin, memprioritaskan dialog, dan mengutamakan akal sehat serta solusi politik maupun diplomatik.".
Irak Dorong Gencatan Senjata di Tengah EskalasiSecara terpisah, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein pada hari yang sama melakukan pembicaraan via telepon dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan.
Dalam pembicaraan tersebut, Hussein menyerukan agar gencatan senjata dan deeskalasi segera diterapkan.
Seruan itu disampaikan demi melindungi warga sipil serta menjaga keamanan dan stabilitas kawasan.
Upaya diplomatik ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah pada Sabtu 28 Februari pagi waktu setempat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beserta beberapa anggota keluarganya, komandan militer senior, serta warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan beberapa gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah.




