Oleh: Muhammad Saleh
Dosen Bahasa dan Sastra UNM
Kita telah mengawali tulisan ramadhan kita dengan Ramadhan dan Revolusi Religiolinguistik, lalu kita bahas Taqwa, Tauhid, hingga Shalat. Sekarang kita beralih ke topik Al-Qur’an. Kita akan bagi topik ini dalam 2 bahasan: (1) Al-Qur’an sebagai Referensi paling menakjubkan, dan (2) Literasi Al-Qur’an. Ini bagian yang pertama.
Dalam jagat akademik, sebuah disiplin ilmu membutuhkan objek formal yang kokoh. Bagi Religiolinguistik, Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, melainkan referensi linguistik paling menakjubkan yang pernah ada. Turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadan (Syahrul Qur’an) bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan “ledakan” revolusi bahasa yang mengubah peradaban manusia selamanya.
Arsitektur Leksikal yang Melampaui Zaman
Al-Qur’an hadir dengan susunan kata (nadzm) yang membuat sastrawan Arab paling fasih sekalipun bertekuk lutut. Secara religiolinguistik, Al-Qur’an memperkenalkan struktur bahasa yang presisi—di mana setiap fonem, diksi, hingga jeda (wakaf) memiliki muatan teologis yang dalam. Ia adalah standar tertinggi bagi Kalimatun Thayyibah (kata-kata yang baik) yang akarnya adalah Tauhid dan buahnya adalah karakter manusia yang luhur.
Mukjizat Transformasi Identitas melalui Teks
Mengapa Al-Qur’an menjadi referensi utama? Karena ia memiliki daya Translokusi yang tidak dimiliki teks lain. Al-Qur’an mampu mengubah identitas penutur dan pendengarnya. Seorang yang tadinya keras hati bisa luluh hanya dengan mendengar satu ayat. Dalam religiolinguistik, ini membuktikan bahwa teks Al-Qur’an memiliki energi yang mampu merestrukturisasi psikolinguistik manusia, menggeser orientasi bahasa dari yang profan menuju yang sakral.
Ramadan: Sinkronisasi dengan Referensi Utama
Di bulan Ramadan, interaksi kita dengan Al-Qur’an mencapai puncaknya. Secara religiolinguistik, momen ini adalah proses “sinkronisasi” massal. Umat Islam di seluruh dunia kembali merujuk pada tata bahasa Tuhan untuk memperbaiki tata bahasa hidup mereka. Ramadan memastikan bahwa Al-Qur’an tetap menjadi referensi hidup (living reference) yang membentuk pola pikir, pola ucap, hingga pola tindak menuju derajat Taqwa.
Penutup
Menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi religiolinguistik berarti mengakui bahwa kesempurnaan cara kita berkomunikasi hanya bisa dicapai dengan meneladani gaya komunikasi Tuhan. Di bulan suci ini, mari kita jadikan setiap ayat yang kita baca sebagai kompas untuk menata ulang lisan kita. (*)





