Banyak orang mengira saat berpuasa tubuh otomatis menjadi lebih sehat karena asupan makanan berkurang. Padahal, menurut dokter umum sekaligus Kepala IGD RS Prikasih, dr. Gia Pratama Putra, puasa yang benar adalah puasa yang tetap memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Yang dikurangi adalah kalorinya, bukan zat gizinya.
“Puasa kita sepakat ya, puasa itu menyehatkan, caranya gimana biar optimal puasanya? Yaitu dengan tetap memenuhi nutrisi. Jadi sepakat dulu bahwa puasa itu mengurangi kalori, bukan membatasi nutrisi” tegas dr. Gia dalam acara Media Ramadan 2026 Media Gathering bersama Frisian Flag Indonesia, Kamis (26/2).
Puasa Menyehatkan Bila Nutrisi Tetap TerjagaTubuh tetap memerlukan makronutrisi seperti karbohidrat, protein, dan lemak untuk menjalankan fungsi normal. Protein, misalnya, dibutuhkan sekitar 1 gram per kilogram berat badan per hari.
Jika berat badan 60 kilogram, maka kebutuhan proteinnya 60 gram dalam 24 jam. Asupan ini bisa dibagi antara sahur dan berbuka agar tubuh tetap bertenaga.
Selain makronutrisi, mikronutrisi seperti vitamin dan mineral juga tak kalah penting. Sayur, buah, serta susu dapat membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Tanpa asupan yang cukup, tubuh bisa terasa lemas meskipun sudah makan dalam jumlah banyak.
Hal lain yang sering diabaikan adalah kebutuhan cairan. Dalam sehari, kebutuhan air sekitar 40 cc per kilogram berat badan. Dengan sistem cicil dari berbuka hingga sahur, kebutuhan ini tetap bisa terpenuhi tanpa membuat perut terasa begah sekaligus.
“Misalkan bangun tidur satu gelas, pas mau imsak 1 gelas lagi, dicicil yang penting dalam 24 jam atau seharian itu 2400 cc dapet Insya Allah tetap fokus,” imbuhnya.
Dr. Gia juga menyoroti pentingnya vitamin D. Meski Indonesia kaya sinar matahari, banyak orang justru mengalami kekurangan vitamin D karena lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan. Padahal, paparan sinar matahari membantu pembentukan vitamin D yang berperan dalam penyerapan kalsium untuk kesehatan tulang.
“Sayangnya pas diperiksa darahnya ‘Kok kadar vitamin D-nya pada rendah-rendah’ ternyata berangkat langsung di kantor seharian nggak kena matahari,” tutup dr. Gia.





