- Dua dari empat kapal tanker Pertamina berada di Selat Hormuz; pemantauan intensif dilakukan demi keselamatan aset dan personel.
- Pertamina telah menyiapkan skema distribusi energi reguler, alternatif, hingga darurat karena 19% impor minyak mentah dari Timur Tengah.
- Stok energi nasional, termasuk untuk Ramadhan dan Idul Fitri, dipastikan aman meski terdapat dinamika geopolitik di jalur pelayaran tersebut.
Suara.com - PT Pertamina (Persero) memberikan pernyataan resmi terkait keberadaan armada kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang saat ini berada di kawasan Selat Hormuz.
Di tengah meningkatnya dinamika keamanan di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia tersebut, Pertamina memastikan pemantauan terus dilakukan secara intensif guna menjamin keselamatan aset dan personel.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengungkapkan bahwa posisi armada Pertamina di kawasan tersebut terbagi dalam dua zona.
Dari total empat kapal yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut, dua di antaranya masih berada di dalam area Selat Hormuz, sementara dua lainnya telah berada di luar zona tersebut.
“Untuk di Selat Hormuz, memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana. Sebenarnya ada empat, tapi yang dua berada di luar Selat Hormuz,” kata Baron di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Keselamatan Awak Kapal dan Koordinasi Lintas Lembaga
Prioritas utama Pertamina saat ini adalah memastikan seluruh kru kapal dalam kondisi selamat dan kapal dapat beroperasi tanpa gangguan.
Mengingat Selat Hormuz merupakan titik rawan akibat ketegangan geopolitik, perusahaan pelat merah ini tidak bekerja sendiri dalam melakukan pengamanan.
Koordinasi dengan otoritas terkait dan kementerian teknis menjadi langkah krusial yang diambil perusahaan.
Baca Juga: Selat Hormuz Membara, Bahlil Putar Haluan Impor Minyak ke Amerika
Hingga laporan terbaru diterima, pihak manajemen menegaskan bahwa situasi di lapangan masih terkendali. Tidak ada laporan mengenai gangguan fisik maupun intimidasi terhadap armada yang sedang melintas.
Pertamina terus menjalin komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk memitigasi risiko yang mungkin timbul dari eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
“Sampai dengan saat ini kondisi masih aman,” ujarnya sebagaimana dilansir Antara.
Ketergantungan Impor Minyak Mentah dari Timur Tengah
Keberadaan kapal tanker di Selat Hormuz berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri. Selat ini merupakan jalur utama bagi distribusi minyak mentah dunia, termasuk pasokan yang menuju ke kilang-kilang di Indonesia.
Data internal perusahaan menunjukkan bahwa porsi minyak mentah yang didatangkan dari kawasan Timur Tengah memiliki peran signifikan dalam bauran energi nasional.



