Perang Teluk Mengancam Ekonomi, Prabowo Gelar Rapat Darurat bersama Mantan Presiden dan Pimpinan Parpol! SBY dan Jokowi Hadir!

wartaekonomi.co.id
13 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan para mantan presiden, wakil presiden, hingga ketua umum partai politik di Istana Merdeka untuk membahas satu agenda mendesak: bagaimana Indonesia harus bersikap di tengah eskalasi perang di kawasan Teluk, Timur Tengah, Selasa (3/3/2026).

Mantan Menteri Luar Negeri Noer Hassan Wirajuda, yang hadir dalam diskusi tersebut, mengungkapkan Prabowo sendiri yang memaparkan situasi geopolitik terkini, termasuk dampak serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, serta eskalasi balasan yang kini merambat ke negara-negara Teluk.

Hassan menggambarkan keprihatinan mendalam yang mewarnai diskusi malam itu, khususnya soal melemahnya peran lembaga internasional dalam menghentikan konflik bersenjata.

"Didiskusikan, implikasinya apa terhadap kita, terhadap dunia. Ketika tatanan dunia sudah tidak lagi efektif dan tidak ada lagi peluang kepada negara yang menjadi korban serangan militer untuk mengadu kepada siapa, karena PBB sudah tidak berperan dan aturan atau 'rule-based order' hanya 'on paper' dan memang tidak ada kekuatan pemaksa, apalagi kalau itu berkaitan dengan negara-negara besar," kata Hassan dikutip dari ANTARA.

Dari sana, Prabowo mengajak seluruh tokoh yang hadir untuk memikirkan langkah konkret — bukan hanya soal keamanan, tetapi juga implikasi ekonomi yang bisa langsung dirasakan Indonesia jika konflik terus melebar.

Hassan menggambarkan posisi Indonesia saat ini jauh lebih kompleks dari sekadar memilih di antara dua kekuatan besar.

"Bapak Presiden menggambarkan bagaimana kita harus menavigasi hidup kita, bukan hanya dua karang, tetapi sekarang beberapa karang dan itu tidak mudah, karena itu didiskusikan tentang implikasinya ini terhadap keseluruhan masalah keamanan dan perdamaian dunia, tetapi juga potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia, khususnya yang menyangkut 'supply oil', minyak dan gas," ujar Hassan, yang pernah menjabat menteri luar negeri di era Presiden Megawati dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Isu ketahanan energi menjadi salah satu titik kritis yang dibahas, mengingat penutupan Selat Hormuz oleh Iran langsung berdampak pada pasokan minyak dunia yang sebagian besarnya mengalir melalui jalur tersebut.

Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan konflik hanya akan berlangsung beberapa hari, forum di Istana Merdeka tidak menutup mata terhadap skenario yang lebih buruk.

"Kalau juga misalnya Amerika akan menggelar pasukan darat, bisa jadi (perang) lebih panjang dan reaksi perlawanan di sekitar negara-negara Timur Tengah juga akan besar, membesar dan karena itu perang akan berlangsung lama," kata Hassan.

Skenario perang berlarut itu dinilai akan membawa konsekuensi yang jauh lebih berat, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi bagi hampir seluruh negara yang bergantung pada stabilitas kawasan Timur Tengah untuk kebutuhan energinya.

Pertemuan itu dihadiri deretan nama besar lintas era kepemimpinan Indonesia. Hadir dalam forum tersebut Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 KH Ma'ruf Amin.

Selain itu turut hadir ketua umum partai-partai politik yang memiliki kursi di DPR RI, perwakilan dunia usaha, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, dan pimpinan lembaga negara.

Hassan menegaskan alasan Prabowo menggelar pertemuan lintas generasi kepemimpinan ini bukan tanpa maksud.

Baca Juga: Prabowo Undang Mantan Presiden dan Menlu RI ke Istana, Tukar Pikiran Soal Situasi Global

"Karena itu, Presiden menganggap penting untuk mengomunikasikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah, dihadapi oleh Presiden, kepada kita yang diminta datang pada malam hari ini," kata Hassan.

Langkah Prabowo mengundang para tokoh lintas partai dan lintas era ini memberi sinyal bahwa pemerintah memandang krisis Timur Tengah bukan sebagai persoalan teknis semata, melainkan tantangan strategis yang membutuhkan konsolidasi seluruh elemen kepemimpinan nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lonjakan Biaya Pengiriman Minyak dan Gas Akibat Selat Hormuz Ditutup, Naiknya Gila-Gilaan hingga 45 Persen!
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
THR ASN dan BHR Ojol Naik, Pemerintah Targetkan Ekonomi Tumbuh 5,6 Persen di Q1 2026
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Fadia Kini Pakai Rompi Oranye KPK, Fairuz A Rafiq Meminta Keluarganya Tak Dikaitkan dengan Sang Kakak: Saya Enggak Paham
• 1 jam lalugrid.id
thumb
Atlet Panjat Tebing Laporkan Dugaan Kekerasan Seksual ke Polisi
• 13 menit lalumediaindonesia.com
thumb
KPK Sebut Bupati Fadia Arafiq Hanya Jalankan Fungsi Seremonial, Tak Paham Hukum dan Tata Kelola Pemerintahan
• 2 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.