Hujan Hambat Pengamatan Gerhana Bulan Total di Planetarium TIM

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Fenomena gerhana bulan total yang dinantikan warga Ibu Kota tak dapat disaksikan dari kawasan Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (3/3) malam.

Langit Jakarta yang diguyur hujan, membuat proses puncak gerhana tak terlihat, meski para pengunjung sudah lebih dulu memadati area Planetarium sejak sore hari.

Memasuki waktu Magrib hingga malam, awan gelap semakin menutup langit Jakarta.

Hujan ringan bahkan sempat turun di sekitar kawasan Cikini, membuat harapan melihat “bulan merah” secara langsung kian menipis.

Beberapa kali pengunjung mencoba mengarahkan pandangan ke atas, berharap celah awan terbuka. Namun hingga fase totalitas berlangsung, bulan tak kunjung terlihat dari lokasi pengamatan.

Pertumbuhan Siklon di Selatan Jawa Pengaruhi Cuaca

Edukator Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta, Muhammad Rayhan, menjelaskan pengamatan gerhana bulan total kali ini terhambat kondisi cuaca mendung dan gerimis.

Menurutnya, pertumbuhan siklon di selatan Pulau Jawa dalam beberapa hari terakhir memengaruhi dinamika atmosfer, sehingga prediksi cuaca yang sebelumnya sempat diperkirakan cerah berubah menjadi berawan tebal.

“Pada pukul 20.41 WIB, fase umbra atau gerhana total telah berakhir. Saat ini masuk fase penumbra, namun sifatnya samar dan sulit dibedakan dari bulan purnama biasa dengan mata telanjang,” ujarnya.

Mengingat faktor cuaca dan fase gerhana yang telah memasuki penumbra, kegiatan pengamatan resmi di lokasi dihentikan dan peralatan teleskop mulai dibereskan.

Meski demikian, tim sempat berhasil mengamati planet Jupiter pada awal malam sebelum awan semakin tebal.

Pengunjung Dialihkan ke Siaran Langsung

Sebelumnya, pihak pengelola telah menyiapkan rangkaian kegiatan untuk menyambut fenomena tersebut, mulai dari sesi edukasi astronomi, nonton bareng siaran langsung gerhana, hingga peneropongan menggunakan teleskop jika kondisi memungkinkan.

Sebagai alternatif, pengunjung diarahkan ke ruang pertunjukan untuk menyaksikan simulasi gerhana serta siaran langsung dari wilayah yang memiliki langit cerah, seperti Manado melalui BMKG dan Bandung melalui Observatorium Bosscha.

Selain itu, narasumber Cecep Nurwendaya juga memberikan pemaparan mengenai proses terjadinya gerhana bulan total dan gambaran penampakan yang seharusnya terlihat di Jakarta apabila cuaca mendukung.

Beberapa masyarakat mengaku kecewa karena tak bisa menyaksikan langsung fenomena tersebut.

Namun tak sedikit yang tetap bertahan mengikuti sesi edukasi dan mengabadikan momen kebersamaan di area TIM.

Meski tanpa penampakan bulan merah di langit Jakarta, antusiasme warga menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap fenomena astronomi.

Pengelola mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi resmi terkait agenda pengamatan berikutnya, mengingat faktor cuaca menjadi penentu utama keberhasilan observasi di ruang terbuka.

Dalam waktu dekat, Planetarium akan menggelar piknik malam bersama untuk pengamatan konjungsi Bulan dan Jupiter pada April, oposisi planet Saturnus pada September, serta Supermoon (Purnama Perige) pada Oktober.

Fenomena gerhana bulan berikutnya yang dapat diamati secara luas di seluruh dunia dijadwalkan terjadi pada 31 Desember 2028, bertepatan dengan malam pergantian tahun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mesir dan Irak Serukan Deeskalasi Regional untuk Cegah Timur Tengah Terjerumus ke Kekacauan Total
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Catat! Ini Jadwal Lengkap One Way, Contraflow, dan Ganjil Genap Arus Mudik-Balik
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Jelang Mudik Lebaran, Jalan Nasional Jogja-Solo Diperbaiki
• 21 jam laludetik.com
thumb
Sidang Isbat Penetapan Lebaran 2026 Digelar 19 Maret 2026
• 16 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Undang Presiden Terdahulu hingga Ketum Parpol, Prabowo Bakal Bahas Isu Geopolitik Dunia
• 5 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.