PT Pertamina (Persero) memprediksi kenaikan konsumsi produk BBM jenis bensin (gasoline) selama periode mudik lebaran tahun 2026, sementara konsumsi produk BBM solar menurun.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan perusahaan telah membentuk Satuan Tugas Ramadan dan Idul Fitri (Satgas RAFI) sebagai bentuk komitmen mengamankan pasokan kebutuhan energi selama periode mudik dan arus balik.
"Pertamina telah meningkatkan pasokan stok energi, build up stock, untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi pada periode ini, terutama pada arus pergi dan arus balik. Stok BBM, LPG, dan avtur sudah aman dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia," katanya saat Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama, Selasa (3/2).
Baron mengatakan, Pertamina memiliki 6 kilang existing yang mengolah berbagai varian produk BBM berkualitas serta subholding downstream sebagai layanan Pertamina kepada masyarakat untuk menjaga komitmen menjaga pasokan stok energi.
"Pertamina juga memiliki bisnis penunjang yang akan mendukung Satgas Ramadan dan Idul Fitri, yaitu maskapai penerbangan Pelita Air, layanan kesehatan dari jaringan rumah sakit dan klinik Pertamina Bina Medika atau Patra Jasa yang juga berada di beberapa kota," tuturnya.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan perusahaan memprediksi puncak arus mudik pertama terjadi pada 14-15 Maret di 2026, kemudian puncak arus mudik kedua terjadi pada 18-19 Maret 2026.
Sementara prediksi puncak arus balik pertama terjadi 24-25 Maret 2026. Serta kemudian prediksi puncak arus balik tahap kedua pada 28-29 Maret 2026.
"Proyeksi kenaikan demand gasoline, kita bisa bicara Pertalite, Pertamax, dan sejenis gasoline lainnya mengalami peningkatan sekitar 12 persen dari konsumsi normal yang ada," jelas Roberth.
Sebaliknya, proyeksi permintaan solar menurun sekitar 14,5 persen. Hal ini, kata dia, terjadi karena menjelang pada libur Idul Fitri biasanya terdapat pembatasan untuk kendaraan-kendaraan logistik yang biasanya membawa barang.
"Untuk proyeksi penyaluran LPG selama periode Satgas diprediksi mengalami kenaikan sekitar 4 persen dari rata-rata normal, sementara untuk demand avtur sekitar 2,8 persen, serta kenaikan 4,2 persen dari sisi kerosine ataupun minyak tanah," ungkap Roberth.
Untuk mengimbangi tren tersebut, Pertamina telah memperkuat ketahanan stok BBM nasional di level rata-rata 21 hingga 23 hari per 1 Maret 2026.
Pertamina menyiagakan 2.074 SPBU yang beroperasi 24 jam di jalur utama dan area dengan kepadatan kendaraan tinggi, 6.300 agen LPG, serta sebanyak 200 unit mobil tangki disiagakan sebagai suplai cadangan. Untuk daerah yang tidak terdapat SPBU permanen dan kawasan wisata, perusahaan menyiapkan 64 titik Kios Pertamina Siaga dan layanan modular.
Selain fokus pada penguatan suplai di koridor Sumatra-Jawa, jalur Trans Jawa, serta konektivitas Kalimantan-Sulawesi.
Pertamina juga memberikan perhatian khusus pada wilayah rawan bencana dengan menyiapkan buffer stock (stok penyangga). Sementara remote area dan kepulauan mendapat pengiriman lebih awal dan melakukan monitoring secara intensif.





