Di Balik Tisu dan Uang Receh, Psikolog Ingatkan Bahaya Mental Anak Jalanan di Jakarta

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Fenomena anak-anak yang turun ke jalan untuk mencari nafkah kian mudah ditemui di kawasan Cikini hingga Gondangdia, Jakarta Pusat.

Dalam penelusuran Kompas.com, sedikitnya sepuluh anak terlihat menawarkan tisu, mengamen, atau meminta uang kepada pengendara di sejumlah titik strategis.

Di balik aktivitas tersebut, para ahli mengingatkan persoalan anak jalanan bukan sekadar isu ekonomi keluarga, melainkan ancaman serius bagi perkembangan mental, emosional, dan masa depan mereka.

Baca juga: Jejak Setoran Anak Jalanan Penjual Tisu di Jakpus...

Psikolog anak, Gloria Siagian, menegaskan anak-anak yang bekerja di jalanan pada dasarnya dipaksa menjalani peran yang melampaui tahap perkembangan usianya.

“Dampak anak yang harus bekerja di jalanan sebenarnya memiliki sisi positif dan negatif. Namun, secara umum, dampak negatifnya jauh lebih besar,” ujar Gloria saat dihubungi melalui WhatsApp, Senin (2/3/2026).

Menurut dia, paparan kehidupan jalanan sangat luas, terlebih bagi anak yang masih di bawah umur.

Mereka harus berhadapan dengan pola pergaulan, interaksi sosial, hingga perilaku orang dewasa yang belum tentu memberikan contoh baik.

Secara emosional dan mental, kondisi tersebut membuat anak dipaksa bertindak di atas usianya.

Dalam psikologi perkembangan, kata Gloria, masa kanak-kanak adalah fase untuk bersekolah, bermain, serta memperoleh pemenuhan hak-hak dasar sebagai anak.

“Namun kenyataannya, mereka justru harus mengambil peran seperti orang dewasa. Akibatnya, mereka tidak memiliki ruang untuk benar-benar menjadi anak-anak,” kata dia.

Ketiadaan ruang aman itu berdampak langsung pada kesehatan mental. Role model yang mereka lihat di jalanan pun belum tentu figur yang positif.

Baca juga: Dari Stasiun hingga Lampu Merah, Potret Anak-anak Penjual Tisu di Jakarta

Rentan kekerasan dan trauma

Paparan kekerasan menjadi persoalan serius lain yang mengintai anak jalanan. Gloria menyebut, anak-anak di jalan berisiko menyaksikan atau mengalami berbagai bentuk kekerasan, penolakan, hingga perilaku menyimpang seperti penggunaan zat adiktif.

“Mereka bisa melihat hal-hal yang seharusnya bersifat privat tetapi terjadi di ruang publik. Di usia yang masih sangat muda, mereka belum memiliki kapasitas kognitif dan emosional untuk memproses pengalaman tersebut dengan baik,” ujar dia.

Akibatnya, banyak di antara mereka berpotensi mengalami trauma. Saat ditanya lebih lanjut mengenai kemungkinan gangguan jangka panjang, Gloria menyebut risiko tersebut sangat mungkin terjadi.

“Sangat mungkin muncul gangguan perilaku, misalnya jatuh ke obat-obatan, pencurian, pergaulan bebas, kekerasan, dan gangguan kesehatan mental,” tutur Gloria.

Selain itu, anak yang terbiasa bertahan hidup di lingkungan keras cenderung mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang berlebihan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu kecemasan berlebih, kesulitan mempercayai orang lain, hingga hambatan dalam membangun relasi sehat saat dewasa.

Baca juga: Satpol PP Bedah Rumah Pedagang Tisu Difabel di Cengkareng Pakai Uang Iuran Anggota

Motivasi belajar yang rapuh

Dari sisi motivasi belajar, dampaknya sangat bergantung pada ada atau tidaknya pendampingan.

Jika terdapat pendampingan yang baik, kondisi jalanan dapat dimaknai sebagai fase sementara yang harus diubah.

“Mereka bisa terdorong untuk memperbaiki hidup, bersekolah kembali, dan tidak kembali ke jalanan,” ujar Gloria.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Namun tanpa pendampingan, anak berisiko memaknai hidup secara fatalistis, merasa hidup tidak adil dan tidak ada gunanya berusaha. Pola pikir ini membuat mereka berhenti bermimpi dan hanya menjalani hidup apa adanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wamensos Agus Jabo Upayakan Sekolah Rakyat Permanen Dibangun di Mukomuko
• 9 jam laludisway.id
thumb
Teknologi Kapal Nirawak IoT Siap Jaga Ekosistem Terumbu Karang Karimunjawa
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
Pelatih Borneo FC tentang Persaingan Juara BRI Super League, Bahas Tradisi Persib yang Konsisten dan Persija dengan The Jakmania
• 12 jam lalubola.com
thumb
PLN UIT JBM Perkuat Keandalan Jaringan 500 kV Paiton–Grati, Sebuah Ikhtiar Nyata di Momentum Ramadan
• 9 jam lalurealita.co
thumb
KPK Ungkap OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Terkait Korupsi Pengadaan Outsourcing
• 34 menit laluviva.co.id
Berhasil disimpan.