Prabowo-Gibran Potensi Tak Lagi Berpaket di Pilpres

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, FAJAR–Dalam politik, semua hal bisa terjadi. Koalisi Prabowo-Gibran bisa saja beda haluan pada 2029.

SEJAUH ini, partai koalisi pemerintah mulai menyatakan dukungan terhadap Prabowo sebagai capres 2029. Tak ada nama Gibran yang kini menjadi wapres dalam dukungan itu.

PKB, PAN, Gerindra, dan lainnya lebih awal menegaskan mendukung Prabowo maju lagi, namun tidak menyertakan nama Gibran. Nama putra sulung Jokowi itu seperti terdepak dalam konsiderasi parpol koalisi.

Hanya PSI dan Jokowi yang mendengungkan Prabowo-Gibran tetap berpaket pada 2029, sementara Nasdem belum menentukan sikap.
Demikan halnya pemenang Pemilu 2024, PDIP masih belum menentukan arah dukungan.

Figur lainnya kemungkinan baru muncul menjelang Pilpres 2029. Apalagi, ada partai baru, Partai Gerakan Rakyat yang mengusung eks capres 2024, Anies Rasyid Baswedan, sebagai usungan pada pilpres berikutnya.

Dengan demikian, dinamika politik menuju Pilpres 2029 mulai menghangat. Absennya nama Gibran dalam paket dukungan partai koalisi memunculkan spekulasi bahwa putra sulung Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, mulai terpinggirkan dalam kalkulasi politik koalisi.

Hingga kini, hanya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bersama Jokowi yang secara terbuka mendengungkan pasangan Prabowo–Gibran tetap berlanjut pada 2029.

Pengamat politik Universitas Hasanuddin, Endang Sari, menilai dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari deklarasi besar PSI beberapa waktu lalu yang dinilai menjadi titik awal pergeseran peta koalisi.

“Sebenarnya ini efek dari deklarasi besar-besaran yang dilakukan oleh PSI. Itu sudah memberikan sinyal awal bahwa mereka punya potensi menjadi penantang dalam kontestasi Pilpres yang akan datang,” ujar Endang, pekan lalu.

Manuver partai-partai yang berbondong-bondong menyatakan dukungan kepada Prabowo merupakan respons atas konsolidasi PSI tersebut. Ia melihat ada dua kutub kekuatan yang mulai terbentuk.

“Artinya peta politik sedang mengarah pada dua kutub, antara kekuatan Jokowi yang akan bekerja habis-habisan untuk PSI dan kutub Prabowo selaku Presiden saat ini,” jelasnya.

Terkait absennya nama Gibran, Endang menilai hal itu bisa dimaknai dalam dua sisi antara evaluasi politik maupun strategi komunikasi partai.

“Bisa jadi ini evaluasi atas kinerjanya sebagai wakil presiden yang memang jarang terlihat mengambil peran strategis di publik. Tapi bisa juga ini sekadar strategi komunikasi politik partai-partai yang merapat ke kekuatan dominan saat ini, yaitu presiden,” kata Endang.

Melemahnya pengaruh Jokowi di internal koalisi merupakan konsekuensi logis setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.

“Ketika seorang Presiden sudah selesai masa jabatannya, tentu tidak sekuat lagi posisinya dibanding Presiden yang sedang menjabat. Kekuatan politik itu pasti melemah,” tegas Endang.

Meski demikian, politik tetap cair dan segala kemungkinan masih terbuka. Peran partai-partai besar pemilik kursi parlemen akan sangat menentukan konfigurasi Pilpres 2029. Nama-nama seperti Gerindra, PKB, PAN, hingga PDI Perjuangan dan Golkar disebutnya sebagai aktor kunci dalam pembentukan koalisi mendatang.

Sementara itu, dorongan PSI agar Prabowo–Gibran tetap berpasangan dinilai belum cukup kuat secara elektorat. Endang mengingatkan bahwa PSI masih harus melewati tahapan verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta membuktikan diri mampu meraih kursi di parlemen.

“Kalau hanya sendiri tentu akan sangat tidak kuat. PSI harus lolos verifikasi KPU dan membuktikan bisa mendapatkan kursi di Senayan. Baru setelah itu bisa bicara soal kekuatan menentukan konfigurasi Pilpres,” ujarnya.

Dari sisi peluang, Gibran dinilai tetap memiliki kesempatan untuk kembali maju pada 2029, terutama setelah ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) menjadi 0 persen. Namun, sejumlah faktor bisa menjadi penghambat, mulai dari isu hukum yang terus digaungkan lawan politik hingga penilaian publik terhadap kinerjanya sebagai wakil presiden.

Endang menyebut, selain penguatan citra di media sosial, langkah konkret yang perlu dilakukan adalah pembuktian kinerja dan konsolidasi politik yang lebih substansial.

“Bagaimana kelanjutan langkah politik Jokowi sangat ditentukan oleh citra dan kinerja PSI ke depan. Apakah bisa lolos verifikasi, menjadi peserta pemilu, dan mendapatkan kursi signifikan di parlemen. Itu yang akan menjadi penentu arah politik mereka menuju 2029,” pungkasnya.

Dengan dinamika yang terus bergerak, pertanyaan publik pun mengemuka apakah ini sekadar strategi sementara atau benar-benar sinyal bahwa Gibran mulai tersingkir dari lingkar utama koalisi? Waktu dan manuver politik para elite akan menjadi jawabannya.

Dukung Penuh

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar sebelumnya menyatakan partainya mendukung Presiden Prabowo Subianto untuk menjabat selama dua periode. Dukungan tersebut disampaikan usai pertemuan antara PKB dan Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Februari ini.

Pria yang akrab disapa Cak Imin itu mengaku puas dengan kepemimpinan Prabowo pada masa awal pemerintahan. Menurutnya, PKB meyakini Prabowo mampu memimpin Indonesia dalam jangka waktu panjang.

“Kami puas di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Kami yakin Pak Prabowo akan sukses memimpin kita bukan hanya lima tahun, bahkan sepuluh tahun ke depan,” kata Cak Imin dilansir Jawa Pos (grup FAJAR).

Saat disinggung mengenai kemungkinan dukungan PKB terhadap Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029, Cak Imin menyebut hal tersebut belum dibahas di internal partai.

“Belum dibahas. Fokus kami saat ini adalah kepemimpinan Pak Prabowo. Intinya, kami puas dan kompak mendukung beliau minimal dua periode,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat itu juga menegaskan dukungan penuh partainya terhadap seluruh kebijakan dan program Presiden Prabowo, khususnya program yang langsung dirasakan masyarakat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

“PKB mendukung penuh seluruh kebijakan dan program yang secara langsung dinikmati rakyat. Kami siap menyukseskan kelanjutan seluruh program strategis tersebut,” ucapnya.

Cak Imin menambahkan, PKB turut fokus mendukung pembangunan ekosistem program Makan Bergizi Gratis agar berjalan optimal dan berkelanjutan. “Misalnya dengan membangun ekosistem MBG yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, sehingga keseimbangan antara suplai dan permintaan dapat berjalan lebih produktif,” ujarnya.

Menurutnya, dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen PKB dalam menyukseskan pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. PKB juga telah menyampaikan berbagai ide dan gagasan kepada Presiden guna memperkuat pelaksanaan program-program strategis nasional.

“Kami telah melakukan rapat koordinasi serta menyampaikan berbagai ide, gagasan, dan usulan untuk menyukseskan pemerintahan Pak Prabowo,” jelasnya.

Ia menegaskan, PKB siap menjadi garda terdepan dalam mengawal dan mendukung seluruh program prioritas pemerintahan demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

“PKB puas dengan kepemimpinan Pak Prabowo dan siap menjadi bagian utama dalam menyukseskan program-program Presiden,” pungkasnya. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Salah Kelola Pangan Saat Ramadan
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Setelah Diamankan di Surabaya, Polisi Bawa Truk Diduga Hasil Pencurian ke Mojokerto
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Barcelona Nyaris Bikin Keajaiban! Tetap Gagal ke Final Copa del Rey Meski Hajar Atletico 3-0
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Kekuatan Big Mom: Haki, Buah Iblis dan Pasukannya di One Piece
• 8 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Balada Penjual Koran di Yogya, Dulu Bisa Sekolahkan Anak Kini Hanya untuk Makan
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.