JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah pesatnya pembangunan Ibu Kota, puluhan peternak bebek di Rorotan, Jakarta Utara, masih bertahan mengelola kandang di hamparan sawah.
Setiap matahari mulai terbit, puluhan peternak bebek di Rorotan berbondong-bondong menuju kandang di tengah sawah, dengan berjalan kaki maupun mengendarai sepeda motor.
Sebab, setiap pagi mereka harus memanen telur bebek dari kandang ternaknya masing-masing.
Ketua Kelompok Peternak Bebek Rorotan Maju Bersama, Mat Yasin (68), mengatakan, ada sekitar 30 anggota yang masih aktif memanen telur setiap hari. Masing-masing anggota memiliki luas kandang berbeda-beda, tergantung jumlah bebek yang dimiliki.
Baca juga: Potret Peternakan Bebek di Jantung Industri Jakarta, Oase Penghasilan bagi Lansia
Secara keseluruhan, lahan di tengah sawah milik perusahaan swasta yang dimanfaatkan sebagai kandang bebek Kelompok Rorotan Maju Bersama kurang lebih sekitar satu hektare.
Para peternak menyewa lahan tersebut secara bulanan atau tahunan dengan biaya yang bervariasi.
Yasin sendiri menyewa lahan dengan harga sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000 per bulan. Biaya tersebut dinilai masih terjangkau dan tertutup dari hasil penjualan telur.
Raup belasan juta per bulanYasin mengatakan, peternakannya lebih fokus menjual telur dibandingkan bebek potong. Dari 700 ekor bebek yang dimiliki, Yasin dapat memanen sekitar 230 butir telur per hari. Telur tersebut dijual kepada tengkulak dengan harga Rp2.100 hingga Rp2.400 per butir.
"Per hari penghasilan mah ada gopek (Rp500.000), kalau sebulan dikali aja jadi Rp 15 juta, tapi itu kan sama modal," tutur Yasin ketika dihubungi Kompas.com, Senin (2/3/2026).
Dari omzet sekitar Rp 15 juta per bulan tersebut, keuntungan bersih yang diperoleh Yasin mencapai sekitar Rp 7,5 juta. Sisanya digunakan untuk membeli pakan bebek, vitamin, dan membayar sewa lahan.
Baca juga: Pria Berjaket Ojol Panik Usai Jambret Lansia, Pura-pura Tolong Korban yang Pingsan
Dalam satu hari, 700 ekor bebeknya membutuhkan pakan berupa roti bekas dan kepala udang sebanyak 50 hingga 70 kilogram (kg).
Dengan keuntungan tersebut, Yasin mampu memenuhi kebutuhan keluarga, membeli kendaraan pribadi, hingga menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi.
Peternak lain, Purba (60), juga mengaku mampu meraih omzet belasan juta rupiah setiap bulan.
"Dalam satu bulan pendapatannya bisa Rp 12 juta, untuk pakan bisa Rp 6 juta - 7 juta per bulan," tutur dia ketika diwawancarai di lokasi, Senin.
Menurut Purba, pengeluaran terbesar dalam beternak bebek adalah untuk pakan. Ia menggunakan roti bekas yang telah dicacah dan kepala udang, bukan pakan pabrikan (pur), karena dinilai lebih terjangkau.





