Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Mantan Menteri Luar Negeri RI periode 2001-2009, Hassan Wirajuda, mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang membuka ruang dialog bersama para tokoh bangsa di Istana Negara, Jakarta, Selasa 3 Maret 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Hassan menilai Presiden sangat terbuka dalam mendengarkan masukan dan pemikiran strategis guna menghadapi situasi dunia yang semakin kompleks.
Hassan menjelaskan bahwa forum tersebut menjadi sarana komunikasi dua arah antara Presiden dan para tokoh yang diundang. Selain memberikan arahan atau briefing, Presiden Prabowo juga memberikan kesempatan luas bagi para peserta untuk memberikan kontribusi pemikiran terkait tantangan nasional.
"Presiden menganggap penting untuk mengomunikasikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah, dihadapi oleh Presiden kepada kita yang diminta datang pada malam hari ini, tapi juga sebelumnya kita tahu kesempatan briefing oleh Presiden terhadap keluarga kelompok melalui pertemuan seperti ini, yang sifatnya briefing, kemudian dialog atau tanya-jawab, dan selebihnya ya masing-masing kita mencoba memberikan kontribusi pemikiran dan Presiden sangat terbuka dalam menanggapi usul-usul pemikiran dari para peserta," ujar Hassan Wirajuda.
Dalam diskusi tersebut, Presiden Prabowo memaparkan tantangan besar dalam menjaga posisi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Hassan menyebutkan bahwa saat ini Indonesia harus menghadapi situasi yang jauh lebih sulit dibandingkan masa lalu.
"Bapak Presiden menggambarkan bagaimana kita harus menafigasi hidup kita di antara bukan hanya dua karang, tapi sekarang beberapa karang. Dan itu tidak mudah, karena itu didiskusikan tentang implikasinya ini terhadap keseluruhan masalah keamanan dan perdamaian dunia," tuturnya.
Selain isu keamanan, pertemuan tersebut secara spesifik membedah ancaman krisis energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah. Mengingat kawasan tersebut merupakan pusat sumber minyak dan gas, eskalasi perang yang terjadi dinilai akan membawa dampak signifikan bagi ekonomi Indonesia.
"Tapi juga potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia, khususnya yang menyangkut supply, oil, minyak, dan gas. Kita berhitung semua apa efeknya terhadap kita dari sisi itu saja. Tapi juga dari sisi kalkulasi berapa lama perang ini akan berlangsung," tambah Hassan.
Hassan juga menyinggung kekhawatiran mengenai durasi perang yang berpotensi memanjang apabila terjadi pengerahan pasukan darat oleh kekuatan besar. Ia memandang wilayah Teluk kini kembali menjadi lahan konflik besar sebagaimana sejarah yang terjadi dalam 30 tahun terakhir.
"Sejujurnya kalau kita lihat, perang ini kan merupakan tindakan sepihak. Bukan perang, ada perang yang dimandatkan oleh PBB. Di Teluk ini sudah ada tiga kali terjadi perang dalam waktu 30 tahun terakhir. Pertama, perang pada masa Presiden Bush Senior yang melawan Irak Saddam Hussein ketika Irak menyerbu Kuwait. Yang kedua, perang 2003 ketika Bush Junior melakukan agresi terhadap Irak dengan tuduhan Irak memiliki senjata pemusnah masal. Ini yang ketiga. Jadi terakhir memang kawasan ini menjadi lahan perang dan perang-perang besar yang membawa dampak besar bagi dunia karena sumber minyak dan gas banyak berasal dari wilayah ini. Itu yang juga kita harus berhitung," pungkasnya.
Pertemuan ini menegaskan komitmen Presiden Prabowo untuk merangkul berbagai elemen ahli dan diplomat senior dalam merumuskan langkah taktis demi menjaga stabilitas dan kedaulatan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
Editor: Redaksi TVRINews





