Bisnis.com, MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis kinerja perbankan Sulawesi Selatan (Sulsel) sepanjang 2025. Hasilnya, baik dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), penyaluran kredit, hingga jumlah aset, mulai menunjukkan trend membaik jika dibandingkan kinerja tahun sebelumnya.
Kepala Kantor OJK Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Moch. Muchlasin memaparkan bahwa penghimpunan DPK mengalami lonjakan kinerja paling baik. Realisasinya sepanjang 2025 sebesar Rp146,61 triliun, tumbuh 9,74% jika dibandingkan 2024.
Pada tahun sebelumnya, penghimpunan DPK di wilayah ini cukup seret dengan hanya mencatatkan kenaikan 4,64% saja jika dibandingkan tahun 2023.
DPK di Sulsel sendiri didominasi oleh tabungan dengan cakupan lebih dari setengahnya atau 59,92% dari total penghimpunan. Disusul deposito sebesar 25,23% dan giro sebesar 14,85%.
Tingginya pertumbuhan DPK berdampak pada realisasi penyaluran kredit, di mana pembiayaan yang telah disalurkan oleh perbankan di Sulsel pada 2025 mencapai Rp172,92 triliun, tumbuh 5,26% dari tahun sebelumnya.
Kendati pertumbuhannya masih cenderung moderat, namun capaiannya lebih baik dibandingkan pertumbuhan di 2024 yang hanya naik 4,23%.
Baca Juga
- Kinerja Perbankan RI Januari 2026: Kredit Rp8.557 Triliun, Simpanan Tumbuh 13,48%
- Kanal Energi & Sentimen Pasar jadi Risiko Utama Perbankan Efek Perang Israel-AS vs Iran
"Kinerja sektor jasa keuangan di Sulsel, utamanya perbankan menunjukkan kondisi stabil dan tetap resilien di tengah dinamika perekonomian nasional maupun global. Stabilitas tersebut mencerminkan daya tahan sistem keuangan daerah yang mampu menopang aktivitas ekonomi secara berkelanjutan," ungkap Moch. Muchlasin di Makassar, Selasa (3/3/2026).
Selanjutnya total aset perbankan di Sulsel hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp214,32 triliun, tumbuh 5,33% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun peningkatannya masih di bawah pertumbuhan tahun sebelumnya yang saat itu mampu naik 5,88%.
"Meskipun begitu kinerja intermediasi perbankan di Sulsel tetap terjaga dengan loan to deposit ratio (LDR) 117,95% dan tingkat rasio kredit bermasalah berada di level 3,65%," tutup Moch. Muchlasin.





