Wall Street Melemah di Tengah Perang Timur Tengah

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Indeks saham utama di Wall Street ditutup melemah pada Selasa sore (3/3) waktu setempat, seiring meningkatnya kekhawatiran investor konflik di Timur Tengah akan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal dan memicu lonjakan inflasi.

Mengutip Reuters pada Rabu (4/3), sebagian besar sektor dalam indeks acuan S&P 500 bergerak di zona merah sepanjang perdagangan, meski posisi indeks utama sudah menjauh dari level terendahnya pada sesi tersebut.

Secara rinci, indeks Dow Jones Industrial Average turun 289,77 poin atau 0,59 persen ke level 48.615,01. Indeks S&P 500 melemah 51,47 poin atau 0,75 persen ke posisi 6.830,15. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi 188,62 poin atau 0,83 persen menjadi 22.560,24.

Konflik yang kini memasuki hari keempat, ditandai dengan serangan pasukan Israel dan AS ke sejumlah target di Iran, memicu serangan balasan Iran di kawasan Teluk serta meluas hingga ke Lebanon. Eskalasi ini mendorong kenaikan tajam harga minyak yang memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi global.

“Meskipun tidak banyak yang berubah secara mendasar sejak kemarin, investor semakin cemas tentang durasi perang dan dampaknya terhadap harga energi," kata Kepala strategi investasi di Northern Trust Asset Management di San Diego, Joseph Tanious.

Portfolio manager at Argent Capital Management, Jed Ellerbroek menilai respons pasar sejauh ini masih relatif terkendali.

Saham maskapai penerbangan yang sempat tertekan di awal perdagangan berbalik menguat. Saham American Airlines (AAL.O) naik 1,5 persen. Selain itu, indeks volatilitas Cboe (VIX) tercatat menguat, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar.

Ancaman Teheran untuk menyerang kapal yang melintasi Selat Hormuz, ditambah penghentian produksi oleh sejumlah produsen minyak dan gas di Timur Tengah, mendorong kenaikan tarif pengiriman global serta harga minyak mentah dan gas alam.

Di sektor keuangan, saham Blackstone (BX.N) turun 1,2 persen setelah dana kredit andalannya, BCRED, mengalami lonjakan permintaan penarikan dana (redemption).

Investor khawatir kenaikan harga minyak akan memicu inflasi lebih lanjut dan mempersulit langkah bank sentral, yang sebelumnya sudah menghadapi tekanan kenaikan harga akibat tarif perdagangan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam satu pekan. Berdasarkan data (London Stock Exchange Group) LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve mundur ke September dari sebelumnya diperkirakan pada Juli.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 3,74 banding 1. Tercatat 117 saham mencetak level tertinggi baru dan 158 saham menyentuh level terendah baru.

Sementara di Nasdaq, sebanyak 1.404 saham naik dan 3.294 saham turun, dengan rasio saham melemah dibanding menguat sebesar 2,35 banding 1.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ekonom dan Bankir Prediksi Perang Iran - AS Berlangsung Singkat, Ini Alasannya
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Libas Atletico Madrid 3-0, Barcelona Gagal ke Final Copa del Rey
• 9 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Pemerintah Rilis Peta Rekayasa Lalu Lintas Mudik Lebaran 2026
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Rekan Senegara Conor McGregor, Ian Garry Tantang Islam Makhachev untuk Gelar Kelas Welter UFC
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Eskalasi Timur Tengah, Kemenhaj Depok Siagakan Langkah untuk 460 Jamaah
• 18 menit lalueranasional.com
Berhasil disimpan.