JAKARTA, KOMPAS.com - Limbah kepala udang dan roti bekas dari rumahan atau pabrik menjadi benda berharga untuk para peternak bebek di Rorotan, Jakarta Utara.
Sekitar 30 peternak bebek yang tergabung dalam Kelompok Rorotan Maju Bersama (RMB) memanfaatkan limbah roti bekas dan kepala udang untuk pakan ratusan hewan ternaknya.
Ketua Kelompok RMB Mat Yasin (68), mengatakan inovasi pakan bebek dengan memanfaatkan limbah roti bekas dan kepala udang ditemukan setelah peternak melakukan berbagai percobaan.
"Kan kita dari tahun 2000, kita udah coba-coba pakai ini, pakai itu, yang bagus ya, ini pakai limbah roti sama limbah kepala udang," jelas Yasin ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Senin (2/3/2026).
Baca juga: Kisah Pensiunan TNI yang Banting Setir Jadi Peternak Bebek, Raup Belasan Juta per Bulan
Roti bekas tersebut harus dicacah terlebih dahulu menggunakan mesin penggiling agar halus dan bisa dimakan bebek.
Sementara kepala udang diberikan dalam waktu terpisah dengan roti, karena menjadi sumber protein.
Yasin mengatakan, pakan roti bekas dan kepala udangnya itu cukup efektif membuat bebek para peternak bertumbuh subur dan cepat bertelur.
Panen ratusan telur setiap hariHal itu terbukti karena Yasin bisa memanen telur bebek dengan jumlah banyak setiap hari dari kandangnya.
Dari 700 ekor bebek yang diternak, ia bisa memanen ratusan butir telur setiap harinya.
"Kalau di sini khusus jual telurnya, ini kan bebeknya ada sekitar 700, jadi telurnya bisa sekitar 230 butir per hari," tutur Yasin.
Yasin bilang, satu butir telur bebeknya dijual ke tengkulak dengan harga Rp 2.100 hingga Rp 2.400.
Jika dikalkulasi, rata-rata pendapatan Yasin per hari sekitar Rp. 500.000 atau Rp 15 juta dalam satu bulan.
Dari omzet tersebut, keuntungan yang bisa didapatkannya sekitar Rp 7,5 juta, sedangkan sisanya untuk membeli pakan.
Baca juga: Potret Peternakan Bebek di Jantung Industri Jakarta, Oase Penghasilan bagi Lansia
Sulit cari stok pakanNamun, belakangan ini, para peternak di Rorotan kesulitan mencari stok pakan seperti roti bekas untuk para hewan ternaknya.
Bahkan, ia harus pergi ke luar kota untuk mendapatkan stok roti bekas untuk ratusan bebeknya itu.
"Iya, makannya roti sisa. Kadang saya mengambil roti sampai ke Subang, tapi fokusnya di Kelapa Gading," ungkap Yasin.
Padahal limbah roti bekas itu didapatkan oleh peternak tidak gratis. Mereka membelinya per kilogram.
Selain sulit mencari roti bekas, peternak juga kesusahan mendapatkan kepala udang untuk pelengkap pakan bebeknya.
Peternak lain, Purba (60), juga mengaku tantangan beternak bebek di Jakarta adalah mencari stok pakan.





