Harga minyak mentah ditutup naik 4,7 persen pada perdagangan Selasa (3/3). Angka ini jadi yang tertinggi sejak Januari 2025 seiring terjadinya konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Dikutip dari Reuters, Rabu (4/3), harga berjangka minyak Brent ditutup naik USD 3,66 atau naik 4,7 persen menjadi USD 81,40 per barel atau tertinggi sejak Januari 2025. Dengan begitu, Harga Brent naik 12 persen sejak konflik dimulai pada hari Sabtu.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup naik USD 3,33, atau 4,7 persen menjadi USD 74,56 atau tertinggi sejak Juni. Adapun konflik yang terjadi telah mengganggu pengiriman energi dari Timur Tengah dan memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih lama.
Selisih harga Brent terhadap WTI juga melebar hingga hampir USD 8 per barel atau tertinggi sejak November 2022. Para analis mengatakan bahwa ketika selisih harga ini naik di atas USD 4, hal itu dapat mendukung kemungkinan ekspor minyak mentah AS.
"Trump mengatakan Iran tidak akan melanjutkan konflik ini lebih lama lagi, jadi pasar berpikir mungkin akan ada penyelesaian yang lebih cepat daripada yang dikhawatirkan sebelumnya," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
Iran telah merespons AS-Israel dengan serangan terhadap infrastruktur energi regional dan kapal tanker di Selat Hormuz yang biasanya dilalui oleh seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Dengan kondisi itu, kapal tanker dan kapal kontainer menghindari selat tersebut setelah perusahaan asuransi membatalkan klaim tanggungan untuk kapal-kapal tersebut dan tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak.
Harga berjangka diesel AS juga melonjak sekitar 10 persen ke level tertinggi sejak Oktober 2023. Harga berjangka bensin AS naik hampir 4 persen menjadi USD 2,46 per galon atau tertinggi sejak Juli 2024. Di pasar gas alam global, kontrak acuan Belanda, harga gas Inggris, serta harga LNG Eropa dan Asia semuanya melonjak.
Kondisi yang ada membuat India dan Indonesia mencari pasokan energi alternatif. Di China, beberapa kilang minyak tutup atau mempercepat rencana perawatan. Sejak serangan dimulai, Qatar telah menghentikan produksi gas alam cair, Israel telah menghentikan produksi di beberapa ladang gas, dan Arab Saudi menutup kilang minyak terbesarnya.
Selain itu, perusahaan minyak raksasa Saudi, Aramco tengah berupaya mengalihkan sebagian ekspor minyak mentah ke Laut Merah untuk menghindari Selat Hormuz.





