Program pengadaan truk untuk Koperasi Desa Merah Putih yang dilakukan PT Agrinas Pangan Nusantara mengguncang industri kendaraan niaga nasional. Total kebutuhan light duty truck (LDT) yang disebut mencapai sekitar 80.000 unit pada 2026 dinilai jauh melampaui kapasitas pasar normal tahunan.
Supply Chain and Marketing Communication (SCMC) Division Head PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Wibowo Santoso, mengatakan lonjakan permintaan tersebut datang secara tiba-tiba. Angka itu bahkan melampaui total pasar truk nasional dalam kondisi normal yang biasanya berada di kisaran 60.000 unit per tahun untuk seluruh merek.
"Satu tahun market kita paling 60 ribu semua merek. Ini tiba-tiba minta 80 ribu, kan butuh waktu semua merek bersiap juga," ujar Wibowo saat ditemui di dealer Hino, Jakarta Timur, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, prinsipal di Jepang sempat terkejut dengan volume permintaan sebesar itu dalam waktu singkat. Produksi truk tidak hanya bergantung pada perakitan di dalam negeri, tetapi juga melibatkan rantai pasok komponen lokal dan impor yang harus berjalan selaras.
Ia menambahkan, untuk menyesuaikan kapasitas produksi dari kondisi normal menuju tambahan puluhan ribu unit, industri membutuhkan waktu persiapan yang tidak sebentar. Secara ideal, peningkatan produksi dalam skala besar seperti itu bisa memakan waktu hingga dua tahun.
"Untuk produksi truk itu komponen banyak dan kita pakai supplier lokal. Untuk naik produksi butuh waktu; cari orang dulu, dididik lagi, di-training, baru bisa kerja," tambahnya.
Dari total kebutuhan sekitar 80.000 unit LDT tersebut, PT Agrinas Pangan Nusantara membagi pengadaan ke sejumlah produsen. Hino menjadi salah satu merek yang memproduksi lokal dengan alokasi sekitar 10.000 unit truk ringan untuk program tersebut.
Selain Hino, segmen LDT juga digarap oleh beberapa merek lain yang telah memiliki basis produksi atau distribusi di Indonesia. Mitsubishi Fuso disebut mendapat porsi sekitar 20.600 unit, Foton sebanyak 13.500 unit, serta Isuzu sekitar 900 unit.
Sementara itu, sebagian kebutuhan juga dipenuhi melalui jalur impor. Agrinas disebut memesan sekitar 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck dari Tata Motors untuk disuplai ke koperasi desa.
Ia mengungkapkan, pada awalnya proyek pengadaan tersebut ditargetkan rampung pada Maret 2026. Namun setelah mempertimbangkan realitas kapasitas produksi seluruh pabrikan di Indonesia, tenggat waktu akhirnya ditinjau ulang oleh pemerintah.
"Kami semua diundang, bahkan mereka minta tolong ayo support program pemerintah. Awalnya Maret harus sudah selesai 80 ribu. Akhirnya mereka me-review, dibuka waktu sampai Desember untuk semua merek," kata Wibowo.





