Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang libur Lebaran, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan kembali menggelar program Mudik Gratis Lebaran 2026. Sebanyak 401 bus disiapkan untuk mengangkut 15.834 penumpang pada arus mudik ataupun arus balik.
Lebih dari satu dekade terakhir, mudik gratis telah menjadi satu program rutin yang dilakukan oleh banyak instansi, baik pemerintah maupun swasta, untuk menyediakan transportasi umum bagi masyarakat yang akan pulang ke kampung halaman.
Kehadiran program mudik gratis sejak era 1990-an pada awalnya merupakan inisiatif dari perusahaan swasta. Program ini pertama kali digagas oleh perusahaan jamu PT Sido Muncul pada tahun 1991. Saat itu, perusahaan memberikan fasilitas transportasi mudik gratis menggunakan armada bus kepada 5.000 orang. Peserta mudik gratis itu adalah para bakul jamu di wilayah Jabodetabek yang akan pulang ke kampung halaman di Solo dan Wonogiri, Jawa Tengah.
Menurut Direktur Utama PT Sido Muncul Irwan Hidayat, Lebaran merupakan tradisi pulang kampung bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa. Namun, pada kenyataannya, sebagian besar masyarakat—terutama dari kalangan menengah ke bawah—justru mengalami kesulitan saat hendak pulang kampung.
”Saya melihat mereka sering kali diperas, ditipu, dan terinjak-injak dalam perjalanan. Dari sinilah kemudian muncul gagasan untuk menolong sebagian dari mereka yang menjadi bagian dari usaha saya,” ujar Irwan.
Selain itu, peristiwa mudik massal ini juga menjadi kesempatan bagi Irwan untuk bertemu langsung dengan para pedagang jamu kaki lima, yakni mereka yang menjadi ujung tombak usahanya (Kompas, 1 Maret 1995).
Mudik gratis Sido Muncul dari Parkir Timur Senayan, Jakarta, 16 Februari 1996
Berada di dalam bus
Antrean bus memasuki Pintu Tol Semanggi
Berawal dari 5.000 orang pada tahun 1991, jumlah peserta mudik gratis Sido Muncul terus bertambah rata-rata sekitar 1.000 orang setiap tahun. Pada tahun 1995, jumlah peserta mencapai sekitar 10.000 orang. Selain ke wilayah Jawa Tengah, banyak pula peserta mudik yang pulang dengan tujuan Cirebon, Jawa Barat.
Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2005, jumlah peserta melonjak hingga sekitar 15.000 orang. Saat itu, perusahaan menyediakan 250 bus non-AC untuk mengangkut belasan ribu pedagang jamu menuju Cirebon, Kuningan, Tegal, Banjarnegara, Solo, dan Wonogiri.
Jejak program mudik gratis ini kemudian diikuti oleh sejumlah perusahaan swasta lainnya. Pada tahun 1994, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk turut menyelenggarakan program serupa. Peserta yang difasilitasi adalah para mitra perusahaan dan pedagang mi instan di warung-warung.
Pada tahun-tahun berikutnya, program mudik gratis menjadi semakin masif berkat adanya inisiatif dari perusahaan swasta lain, badan usaha milik negara (BUMN), serta instansi pemerintah—termasuk pemerintah daerah. Seiring berjalannya waktu, fasilitas transportasi yang digunakan untuk mengangkut para pemudik pun mulai ditingkatkan, yakni beralih menggunakan armada bus ber-AC.
Layanan bus AC ini disukai para pemudik. Buruh bangunan asal Sragen, Jawa Tengah, Suyanto (42), yang mengikuti program mudik gratis pada 2010 mengatakan, ia mulai berburu mudik gratis dan rutin mengikutinya sejak dua tahun sebelumnya. ”Kalau tidak ikut mudik bersama, tak mungkin bisa merasakan bus AC,” katanya.
Panggung hiburan untuk peserta mudik gratis Sido Muncul, 25 Agustus 2011
Mudik gratis yang diselenggarakan PT Semen Cibinong, 30 Oktober 2005
Nasabah BNI mendaftarkan diri untuk mudik gratis, 29 Agustus 2009
Door prize disediakan untuk peserta mudik gratis Sido Muncul, 25 Februari 1995
Tahun 2007, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan mulai melaksanakan mudik gratis untuk para pemudik yang menggunakan sepeda motor. Salah satu tujuan utamanya adalah mengurangi jumlah pemudik dengan sepeda motor untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas.
Hal itu tidak terlepas dari fenomena peningkatan penggunaan sepeda motor untuk mudik pada beberapa tahun sebelumnya. Kemudahan masyarakat dalam memiliki sepeda motor, ditambah alasan kepraktisan—seperti tidak perlu repot membeli tiket angkutan umum dan ongkos yang lebih hemat—menjadi faktor pendorong pemudik memilih moda transportasi ini.
Untuk mengakomodasi lonjakan pemudik sepeda motor tersebut, program mudik gratis kemudian diselenggarakan dengan konsep baru, yakni mengangkut sepeda motor sekaligus mengantar para pemudiknya.
PT Astra Honda Motor (AHM) merupakan salah satu perusahaan swasta yang menggelar program mudik dengan konsep tersebut pada tahun 2010. Dikutip dari laman Kementerian Perhubungan, dalam penyelenggaraan ketiga kalinya pada tahun 2012, tercatat sebanyak 2.507 pemudik berpartisipasi dalam program mudik gratis AHM. Sebanyak 54 bus dikerahkan untuk membawa penumpang dengan tujuan Semarang dan Yogyakarta. Sementara itu, 1.078 unit sepeda motor milik para pemudik diangkut ke daerah tujuan menggunakan 22 truk.
Pada dasarnya, perjalanan mudik menggunakan sepeda motor sangat tidak disarankan karena tingginya risiko kecelakaan. Oleh karena itu, masyarakat terus diimbau untuk memanfaatkan fasilitas mudik gratis guna menekan angka kecelakaan di jalan raya.
Kini, mudik gratis—terutama saat libur Idul Fitri—telah menjelma menjadi program berskala nasional. Pelaksanaannya pun tidak lagi terbatas di Pulau Jawa dan sebagian wilayah Sumatera, tetapi sudah menjangkau berbagai daerah lain di Indonesia.
Pada Lebaran 2026 ini, survei Kementerian Perhubungan memperkirakan ada 143,9 juta orang yang akan melakukan perjalanan mudik. Tujuan mudik terbesar adalah kota-kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Mudik menggunakan mobil masih menjadi pilihan utama para pemudik diikuti dengan pengguna sepeda motor dan bus.





