CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite tetap stabil meskipun harga minyak mentah dunia melonjak akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rencana kenaikan harga BBM bersubsidi.
"Kalau harga BBM yang subsidi, yang bensin Pertalite, itu mau (harga minyak dunia) naik berapa pun, tetap harganya sama sebelum ada perubahan dari pemerintah," ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip dari Antara Rabu (4/3)
Sebagai negara pengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari, kenaikan harga minyak mentah gp1selisih ini yang sedang kami hitung," ucap Bahlil.
Bahlil menjelaskan bahwa untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax, penyesuaian harga tetap mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Artinya, potensi kenaikan harga masih terbuka untuk jenis BBM non-subsidi.
Menurutnya, pemerintah akan melakukan kalkulasi secara hati-hati sebelum mengambil kebijakan terkait subsidi energi.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik setelah serangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Harga minyak mentah global kini berada di kisaran 78–80 dolar AS per barel. Angka tersebut melampaui asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar 70 dolar AS per barel.
Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, pasukan AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS, Donald Trump, pada 1 Maret 2026 mengklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan gabungan tersebut. Televisi pemerintah Iran juga mengonfirmasi kematian tersebut.
Situasi semakin memanas setelah media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz secara efektif ditutup, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia, atau kurang lebih 20 juta barel per hari, melintasi kawasan tersebut. Selain minyak, jalur ini juga menjadi rute utama ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.
Penutupan jalur strategis ini berpotensi memperburuk lonjakan harga energi global dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.




