Dunia ekspor Sumatera Selatan belum terdampak langsung oleh perang yang terjadi di Timur Tengah. Hal itu karena Timur Tengah bukan wilayah tujuan utama ekspor komoditas asal Sumsel. Kendati demikian, Sumsel tetap waspada dengan dampak perang yang berkepanjangan.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Sumsel Ika Oktavianti saat ditemui di Palembang, Selasa (3/3/2026), mengatakan, perang yang terjadi di Timur Tengah belum memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekspor komoditas asal Sumsel. Setidaknya, sampai saat ini, permintaan penerbitan surat keterangan asal (SKA) untuk ekspor ke Timur Tengah masih normal.
”Kalau kita lihat sejak perang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) hingga hari ini, pengajuan pembuatan SKA untuk ekspor ke Timur Tengah tetap normal. Itu menandakan buyer atau pembeli di Timur Tengah tetap memproses impor komoditas asal Sumsel. Adapun komoditas asal Sumsel yang rutin diminta buyer di Timur Tengah, yakni karet yang diminta setiap bulan dan bahan dari kayu olahan (medium density fiberboard/MDF) yang diminta setiap tiga bulan sekali,” ujar Ika.
Selain itu, Ika menuturkan, Timur Tengah bukan wilayah tujuan utama ekspor komoditas asal Sumsel. Sepanjang 2025, ada enam negara yang menjadi tujuan utama ekspor komoditas asal Sumsel dari total 94 negara tujuan ekspor. Enam negara itu adalah China, India, Vietnam, Malaysia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.
Sebaliknya, negara Timur Tengah yang menjadi tujuan utama ekspor komoditas asal Sumsel adalah Arab Saudi. Namun, volume maupun nilai ekspor ke Arab Saudi hanya berada di urutan ke-19 dari total 94 negara tujuan ekspor tersebut. ”Karena faktor itu pula, perang di Timur Tengah belum memengaruhi aktivitas ekspor komoditas asal Sumsel,” kata Ika.
Namun, Ika memastikan, pihaknya tidak mengabaikan dampak luas yang bisa ditimbulkan oleh perang di Timur Tengah. Dampak luas itu bisa timbul kalau perang berkepanjangan. ”Untuk sementara, kami masih menunggu perkembangan dari perang tersebut. Tentu, kalau semakin meluas, kami akan menyiapkan strategi untuk meminimalisasi dampaknya terhadap perekonomian Sumsel secara umum, bukan hanya terhadap kegiatan ekspor,” tuturnya.
Sejauh ini, aktivitas ekspor menjadi salah satu penopang perekonomian Sumsel. Pada 2025, total volume ekspor Sumsel mencapai 55,29 juta ton dengan total nilai 6,72 miliar dolar AS.
Total jumlah jenis komoditas yang diekspor dari Sumsel mencapai 83 jenis. Namun, ada enam komoditas yang menjadi primadona, meliputi batubara, karet, bubur kertas dan kertas (pulp and paper), minyak dan lemak nabati termasuk yang berasal dari kelapa sawit, barang dan bahan dari kayu olahan, serta buah kelapa.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumsel Sumarjono Saragih mengatakan, perang di Timur Tengah tidak boleh dilihat secara parsial. Pemerintah daerah maupun pusat harus melihatnya sebagai isu geopolitik dan geoekonomi yang dampaknya bisa berpengaruh secara global. Sebab, walau perang terjadi di Timur Tengah, dampaknya secara politik maupun ekonomi bisa terasa ke seluruh dunia, tak terkecuali hingga ke Indonesia.
Sebelumnya, dampak dari perang antara Ukraina dan Rusia juga terasa. Ternyata, perang itu memengaruhi ketersediaan gandum dunia yang membuat harga gandum meningkat, termasuk di Indonesia. Hal itu karena Ukraina adalah produsen dan eksportir gandum utama di dunia.
Untuk perang di Timur Tengah, dampak yang ditimbulkan kemungkinan jauh lebih besar dari dampak perang Ukraina dan Rusia. Hal itu karena perang Timur Tengah melibatkan AS selaku negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar di dunia. Dengan begitu, setiap terjadi gangguan ekonomi terhadap AS, hal itu akan mengganggu ekosistem ekonomi dunia.
Di sisi lain, perang Timur Tengah membuat Selat Hormuz ditutup oleh Iran. Akibatnya, jalur pendistribusian logistik yang biasanya melalui Selat Hormuz harus berputar lebih jauh. Otomatis biaya logistik akan lebih mahal sehingga dapat menyebabkan harga komoditas melambung tinggi.
Fenomena itu akan sangat memukul perekonomian Sumsel maupun Indonesia karena masih sangat bergantung dengan impor bahan baku. Sumsel, misalnya, hampir semua komoditas ekspornya berasal dari sektor pertanian dan perkebunan, seperti karet dan kelapa sawit.
Produksi komoditas pertanian dan perkebunan itu butuh pupuk yang mayoritas diimpor. ”Saat impor pupuk terganggu dan harganya melonjak tinggi, itu bisa membuat celaka kegiatan ekspor maupun perekonomian Sumsel,” ujar Sumarjono.
Di samping itu, Sumarjono menuturkan, sekurangnya 20 persen pasokan minyak dunia diangkut melalui Selat Hormuz. Selama perang berlangsung, kemungkinan produksi dan distribusi minyak itu akan terganggu hingga terhenti sama sekali.
Situasi itu pasti akan menimbulkan efek domino naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) di dunia, tak terkecuali di Indonesia. ”Kalau harga BBM naik, itu akan membuat semua harga bahan pokok naik. Itu bukan hanya menyulitkan masyarakat, melainkan pula dunia usaha, termasuk yang berkaitan dengan ekspor,” katanya.
Saat ini, lanjut Sumarjono, perjalanan orang pun sudah terganggu oleh perang di Timur Tengah karena penerbangan internasional lintas benua yang transit di Doha, Qatar, dihentikan sementara. Itu bukan hanya membuat perjalanan personal terhambat, melainkan pula perjalanan bisnis. Sejumlah rencana negoisasi bisnis atau rencana investasi turut tertunda.
”Di Indonesia, Bali menjadi daerah yang langsung merasakan dampak terganggunya penerbangan internasional tersebut. Sebab, banyak wisatawan akhirnya tidak bisa atau batal ke Bali yang sangat menggantungkan ekonominya dari sektor pariwisata. Sejumlah rencana investasi di Indonesia juga kemungkinan terganggu,” tuturnya.
Sumsel maupun Indonesia tidak boleh mengabaikan dampak luas dari perang di Timur Tengah. Pemerintah daerah maupun pusat harus segera memperkuat langkah antisipasi agar bisa meminimalisasi dampak tersebut.
Oleh karena itu, Sumarjono menyampaikan, Sumsel maupun Indonesia tidak boleh mengabaikan dampak luas dari perang di Timur Tengah. Pemerintah daerah maupun pusat harus segera memperkuat langkah antisipasi agar bisa meminimalisir dampak tersebut.
Salah satu caranya dengan memperkuat ekosistem ekonomi lokal yang masih sangat ditopang oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penguatan itu harus dilakukan secara nyata, bukan hanya retorika semata.
”Selain itu, yang perlu diusahakan adalah mendorong percepatan hilirisasi komoditas unggulan daerah. Kalau tidak, hasil komoditas yang sulit diekspor selama perang di Timur Tengah akan busuk dan terbuang cuma-cuma,” ungkap Sumarjono.





