Penyakit campak memiliki tingkat penularan tertinggi. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini sangat mudah menular melalui udara, seperti percikan batuk atau bersin.
Campak berbahaya karena dapat memicu komplikasi serius, mulai dari gagal napas akibat radang paru-paru, kejang akibat radang otak, hingga dehidrasi berat yang berujung pada kematian.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat beberapa wilayah melaporkan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Oleh sebab itu, penyakit campak jadi perhatian serius saat ini.
4 Pasien MeninggalBerdasarkan data nasional yang dirilis Kemenkes, sepanjang tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian (CFR 0,1 persen).
Sementara pada tahun 2026 hingga Februari tercatat 8.810 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian (CFR 0,05 persen).
Pada periode tersebut, terjadi 21 KLB suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi laboratorium yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.
Dalam grafik yang disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, grafik tren harian suspek campak dan campak terkonfirmasi laboratorium selama 1 Januari–28 Februari 2026 terlihat wabah memuncak di Januari 2026, dengan intensitas tinggi dan fluktuatif.
Februari menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Meski menurun, tetap diperlukan kewaspadaan dan penguatan imunisasi untuk mencegah gelombang lanjutan.
Kasus campak mencapai puncaknya pada pertengahan Januari 2026 dengan jumlah sekitar 420 kasus dalam sehari. Kasus konfirmasi lab mengikuti pola yang sama, dengan puncak sekitar 40–45 kasus per hari.
Lalu memasuki awal Februari terjadi tren penurunan baik pada suspek maupun konfirmasi kasus campak. Suspek kurang dari 100 kasus per hari, bahkan turun hingga kurang dari 20 kasus di akhir bulan. Konfirmasi lab rendah, mendekati 0–5 kasus per hari.
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat menular sehingga memerlukan kewaspadaan dan respons cepat.
“Campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Karena itu, setiap peningkatan kasus harus direspons dengan cepat melalui surveilans yang kuat dan pelaporan yang tepat waktu,” ujar Andi dalam rilis Kemenkes.
“Kami terus memperkuat surveilans campak secara nasional, termasuk penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah penemuan kasus dan pelaporan real time melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR),” ucapnya.
Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah akan memberikan vaksinasi campak di 100 kabupaten dan kota. Langkah ini dilakukan menyusul indikasi naiknya jumlah penderita campak.
Campak ini memiliki risiko tinggi bila menyerang anak. Karenanya Budi menekankan penting vaksinasi.
"Semua ibu-ibu yang punya anak di bawah 5 tahun, harus segera divaksinasi, diimunisasi campak. Kalau enggak, pasti tertular. Kalau sekali di kota sudah ada, itu pasti merambatnya cepat sekali,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin di NTB, Jumat (27/2).
Dia berharap ibu-ibu tak menolak saat anaknya divaksin campak.
“Tolong ya, ibu-ibu, kan yang sudah, ini kan sedih kan kalau sudah meninggal anaknya karena penyakit yang seharusnya bisa kita jaga,” imbuhnya.
Kementerian Kesehatan, lanjut Budi, terkait penyakit campak ini menargetkan seluruh anak Indonesia sudah mendapatkan vaksinasi ada Juni tahun ini.
“Saya maunya Juni selesai. Juni, semua anak-anak di bawah 5 selesai. Kayak polio kemarin juga sudah bisa kita tangani ya,” pungkas Budi.




