JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti memberikan dua saran ke pemerintah terkait meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Indonesia perlu mendorong de-eskalasi dan gencatan senjata melalui forum internasional, memperkuat suara Global South, dan menegaskan bahwa stabilitas jalur energi global adalah kepentingan bersama.
Menurut Azis, pemerintah harus aktif melakukan diplomasi dalam mendorong de-eskalasi dan upaya gencatan senjata melalui forum internasional.
"Indonesia perlu mendorong de-eskalasi dan gencatan senjata melalui forum internasional, memperkuat suara Global South, dan menegaskan bahwa stabilitas jalur energi global adalah kepentingan bersama," kata Azis dalam keterangannya, Rabu (4/3/3026).
Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran, Prabowo Singgung Kesiapan Pangan dan Energi
Menurut dia, netralitas bukan berarti pasif.
Namun, langkah netral Indonesia diperlukan dalam konteks menjaga jarak dari blok kekuatan sambil aktif membangun ruang dialog.
Poin kedua, anggota Komisi II DPR RI ini menyarankan, Indonesia melakukan penguatan struktural di dalam negeri.
Berkaca konflik ini, kata Azis, membuat transisi energi bukan lagi agenda jangka panjang yang bisa ditunda.
"Krisis ini harus menjadi momentum mempercepat diversifikasi energi, memperkuat cadangan strategis, mereformasi subsidi agar lebih tepat sasaran, dan mendorong investasi energi terbarukan," ucapnya.
Baca juga: Gelombang Desakan agar Indonesia Hengkang dari Board of Peace Usai Serangan AS-Israel ke Iran
Dalam konteks dalam negeri, menurutnya, diperlukan koordinasi fiskal dan moneter yang disiplin.
Menurutnya, stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, dan kepercayaan pasar menjadi penopang utama agar guncangan eksternal tidak berubah menjadi krisis domestik.
"Bantalan sosial bagi kelompok rentan perlu disiapkan sejak awal, bukan setelah tekanan terasa luas," ucapnya.
Lebih lanjut, Azis menilai, konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran tersebut bukan sekadar konflik regional.
Terlebih, Iran menutup akses jalur di Selat Hormuz yang menjadi jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Baca juga: Eks Menlu Sebut Prabowo Kalkulasikan Lamanya Perang AS-Israel vs Iran
"Begitu jalur ini terganggu, pasar bereaksi cepat, harga minyak melonjak, premi asuransi pelayaran meningkat, dan rantai pasok global bergetar. Dalam hitungan hari, ketidakpastian menggantikan stabilitas," ucapnya.
Ia mengatakan, krisis di Selat Hormuz itu tentu berdampak ke sektor energi di Indonesia.





