Hujan ringan mengguyur halaman Kelenteng Eng An Kiong di Jalan RE Martadinata, Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (3/3/2026) sore. Diiringi tetabuhan alat musik khas Tionghoa, dalang Slamet asal Gudo, Jombang, memainkan wayang potehi dengan lakon Sam He Lam Tong.
Di bawah tenda kecil di depan kelenteng, beberapa warga asyik menonton pentas. Ini adalah hari kelima pentas wayang potehi digelar pihak kelenteng dalam rangka Imlek 2577 dan Cap Go Meh.
Menggunakan bahasa Indonesia, pentas wayang potehi oleh grup Fu He An itu dilaksanakan mulai 27 Februari-30 April. Pementasan digelar dua kali sehari, masing-masing sesi pertama pukul 15.00-17.00 WIB dan sesi kedua 20.00-21.30 WIB.
“Ini lakonnya Sam He Lam Tong, bercerita soal kerajaan. Saling berebut kekuasaan,” kata Agus Sujatmiko (58), warga Malang keturunan Tionghoa.
Agus menuturkan telah mengenal wayang potehi sejak kecil. Saat masih duduk di bangku SD-SMP dia sering melihat pentas potehi di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban.
“Saya asli Tuban. Waktu kecil di sana tidak ada hiburan. Tiap sore, jam 15.00 sama teman-teman main di kelenteng di Tuban,” tuturnya.
Setelah pindah ke Malang, Agus berupa menyempatkan diri menonton saat ada pentas wayang potehi. Selain bernostalgia, menurut dia banyak nilai filosofis terkandung di dalamnya.
“Ceritanya juga banyak,” ucapnya.
Senada Agus, Halim (81), warga keturunan Tionghoa lainnya di Malang yang juga berasal dari Tuban, selalu berupaya menyempatkan diri datang melihat pentas.
“Sejak SD saya sudah senang wayang potehi. Melihatnya di Tuban,” katanya.
Wayang potehi menampilkan cerita legenda mirip kesenian lainnya, seperti ketoprak atau ludruk. Hanya saja isi ceritanya berbeda.
“Ada hikmah yang didapat dari cerita itu,” ucapnya.
Sayangnya, menurut Halim banyak generasi muda yang saat ini tidak lagi mengerti cerita yang ada dalam pertunjukkan wayang potehi.
“Saya sangat prihatin, harapannya bisa tetap lestari. Di Jawa Timur, wayang seperti ini hanya ada dua, di Surabaya dan Jombang,” ujarnya.
Suasana sedikit menggembirakan terlihat sore itu. Tidak hanya warga dewasa dan usia lanjut yang duduk di bangku kayu, yang melihat pentas. Ada juga beberapa anak muda hadir di sana.
Beberapa diantaranya adalah Mika (19) asal Jakarta, Mesi (20) dari Malang, dan Ratih (20) asal Bali. Ketiganya mahasiswa semester empat, Jurusan Sastra Cina, Universitas Brawijaya Malang.
Tahun lalu, Mika pernah melihat pentas wayang potehi di kelenteng Eng An Kiong. Sedangkan Mesi dan Ratih baru kali pertama melihat.
“Unik sih, kalau wayang lain pakai kulit. Ada layar dan pencahayaan. Sedangkan wayang potehi memakai miniatur. Di Bali ada juga wayang kulit namanya cenglong yang beda dengan di Jawa,” tuturnya.
Sejarah wayang potehi di Gudo berlangsung sejak lama. Dikutip dari wawancara Radio Sonora dengan Toni Harsono, pelestari wayang potehi Gudo, di website Bentara Budaya (bentarabudaya.com), Toni menuturkan, kakeknya datang langsung dari Tionghoa. Beliau membawa perlengkapan wayang potehi ke ibu kota salah satu kecamatan di Jombang tersebut pada 1920.
Akan tetapi, potehi yang tadinya bebas dimainkan di mana saja, akhirnya dilarang sejak munculnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967.
Baru setelah Presiden Abdurachman Wahid mencabut Inpres itu dan menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, wayang tersebut bisa dipentaskan kembali hingga saat ini, mulai dari kelenteng sampai mal, terutama saat Imlek tiba.
Toni memiliki Museuam Potehi Gudo, dekat Kelenteng Hong San Kiong. Di tempat ini, tersimpan artefak wayang potehi yang usianya mencapai 100-an tahun.
”Di Gudo juga ada pembuatan wayang potehi,” ucapnya.
Dalam wawancara dengan Kompas, Sinolog Universitas Indonesia Eddy P Witanto mengatakan, wayang potehi berakar dari seni pertunjukan boneka Zhangzhou, Provinsi Fujian, China, pada masa Dinasti Han (206-220 Masehi).
Potehi lahir dari para tahanan yang menunggu hukuman mati di penjara Zhangzhou pada era Dinasti Jin (265-420 Masehi). Para tahanan disebut menghibur diri dengan membuat boneka kantong dari bahan-bahan yang ditemukan di dalam sel.
Kesenian wayang potehi kemudian berkembang pesat di China pada masa Dinasti Tang. Tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Ming Huang (713-756 Masehi). Wayang potehi diperkirakan masuk ke Nusantara pada abad ke-16. (Kompas.id/5/2/2022).


