EtIndonesia. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang diberi nama sandi “Operasi Amarah Epik” resmi memasuki hari kedua pada Minggu, 1 Maret 2026, dengan eskalasi yang meluas ke berbagai front.
Serangan besar-besaran yang dimulai pada 28 Februari 2026 kini tidak hanya menghantam infrastruktur militer Iran, tetapi juga menyeret proksi Teheran di Lebanon, memicu gangguan penerbangan global, hingga mengguncang pasar energi dunia.
Serangan Intensif AS: B-2 Hantam Fasilitas Bawah Tanah Iran
Pada malam 1 Maret 2026, dalam wawancara telepon dengan ABC News, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi tersebut “sangat berhasil” dan mengklaim hampir seluruh kandidat penerus Ayatollah Ali Khamenei telah dieliminasi. Ia juga mengungkapkan bahwa ribuan pejabat Iran disebut telah menghubungi pihak Amerika untuk meminta pengampunan.
Di hari yang sama, United States Central Command (CENTCOM) mengonfirmasi pengerahan pesawat pengebom siluman B-2. Empat unit B-2 yang lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri menjatuhkan puluhan bom seberat 2.000 pon ke fasilitas rudal balistik bawah tanah Iran yang diperkuat secara khusus.
Menurut pejabat pertahanan AS yang tidak disebutkan namanya, ini merupakan penggunaan besar kedua B-2 setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 lalu.
Pada laporan pembaruan 2 Maret 2026, CENTCOM menyatakan lebih dari 20 jenis pesawat, kapal perang, rudal, dan sistem persenjataan telah digunakan untuk menyerang lebih dari 1.000 target di Iran. Operasi ini disebut sebagai pengerahan kekuatan militer terbesar Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
Angkatan Laut Iran Dihantam, Sistem Komando Disebut Runtuh
Pada dini hari 2 Maret 2026, Trump melalui unggahan daring menyebut sembilan kapal Angkatan Laut Iran telah dihancurkan dan ditenggelamkan. Markas besar Angkatan Laut Iran juga dilaporkan hampir sepenuhnya hancur akibat serangan presisi.
Sekitar empat jam kemudian, dalam pidato video lanjutan, Trump menyatakan bahwa sistem komando militer Iran telah runtuh. Ia mendesak Garda Revolusi Islam, militer reguler, serta aparat kepolisian Iran untuk meletakkan senjata dan menerima pengampunan penuh, atau menghadapi konsekuensi serius.
Israel Rebut Superioritas Udara, 2.000 Bom Dijatuhkan
Menurut laporan The Jerusalem Post, Angkatan Udara Israel dalam operasi bertajuk “Dukungan Menggelegar” pada 1–2 Maret 2026 menjatuhkan sekitar 2.000 bom ke berbagai target di Iran. Jumlah tersebut setara dengan setengah total bom yang dijatuhkan selama konflik 12 hari pada Juni 2025.
Untuk pertama kalinya, Israel melakukan penetrasi skala besar ke wilayah ibu kota Teheran, menyerang gedung pemerintah, lembaga intelijen, serta pusat komando militer. Ledakan terdengar berulang kali, sementara asap tebal membumbung di sejumlah titik strategis.
Di wilayah barat dan tengah Iran, sekitar 200 peluncur rudal balistik dilaporkan dihancurkan atau dilumpuhkan, yang berarti hampir setengah kemampuan rudal balistik Iran kini tidak lagi operasional.
Hizbullah Buka Front Lebanon, Gencatan Senjata Berakhir
Konflik meluas ketika kelompok Hizbullah di Lebanon, yang didukung Iran, meluncurkan roket dan drone ke Israel utara pada dini hari 2 Maret 2026, sebagai respons atas kematian Khamenei.
Menurut laporan Reuters tertanggal 2 Maret, sebagian besar roket berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel dan tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, sirene peringatan berbunyi di berbagai wilayah dan warga terpaksa mengungsi.
Israel segera mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama satu tahun dan melancarkan serangan balasan besar-besaran ke basis Hizbullah di selatan Beirut, desa-desa di Lebanon selatan, serta Lembah Bekaa. Lebih dari selusin ledakan dilaporkan terjadi sekitar pukul 03.00 waktu setempat.
Militer Israel memerintahkan evakuasi lebih dari 50 desa di Lebanon selatan dan timur, memperingatkan bahwa operasi darat dan udara dapat berlangsung beberapa hari.
Iran Serang Infrastruktur Energi Saudi
Eskalasi tidak berhenti di Lebanon. Pada pagi 2 Maret 2026, Iran dilaporkan meluncurkan drone ke kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco di pesisir Teluk Persia. Kilang tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 550.000 barel per hari dan dilaporkan terpaksa menghentikan operasional sementara.
Serangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Inggris Siapkan Evakuasi Darurat
Pemerintah Inggris mulai menyusun rencana evakuasi warganya dari kawasan Timur Tengah. Menurut laporan BBC, lebih dari 76.000 warga Inggris telah mendaftarkan keberadaan mereka ke Kementerian Luar Negeri, dengan sebagian besar berada di Uni Emirat Arab.
Peringatan perjalanan dikeluarkan untuk Bahrain, Qatar, Kuwait, dan UEA. Warga Inggris diminta berlindung di tempat aman dan mengikuti perkembangan resmi pemerintah.
Penerbangan Global Terguncang
Pembatasan dan penutupan wilayah udara di berbagai negara Timur Tengah berdampak luas pada penerbangan internasional. Bandara di Tel Aviv, Dubai, dan Doha mengalami gangguan operasional.
Maskapai besar seperti Emirates, Etihad Airways, dan British Airways menangguhkan sejumlah penerbangan. Ratusan hingga ribuan jadwal penerbangan dibatalkan atau dialihkan, menyebabkan ribuan penumpang terlantar.
Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Terancam Tembus US$100
Ketegangan meningkat drastis setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz — jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Di perairan timur selat, dekat Oman, dilaporkan terjadi insiden terhadap kapal-kapal komersial. Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal tanker agar tidak melintas. Sedikitnya 150 kapal tanker minyak dan LNG tertahan di sekitar Teluk Persia.
Analis energi memperingatkan bahwa jika penutupan berlangsung lama, harga minyak mentah global berpotensi melonjak melampaui US$100 per barel dan memicu gelombang resesi global.
Perkembangan dalam 48 jam terakhir menunjukkan bahwa konflik ini tidak lagi terbatas pada konfrontasi bilateral, melainkan telah menjelma menjadi krisis regional dengan implikasi global. Situasi di Timur Tengah kini berada dalam fase paling genting dalam beberapa dekade terakhir, dengan risiko eskalasi lanjutan yang masih terbuka lebar. (***)





