Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bereaksi terkait langkah Iran menutup Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur perdagangan strategis pasokan energi dunia.
Lalu lintas kapal tanker di jalur vital itu praktis terhenti sejak AS dan Israel memulai kampanye pengeboman pada akhir pekan kemarin, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal di berbagai wilayah kawasan.
Trump mengatakan bakal menyediakan asuransi untuk kapal yang melewati Selat Hormuz.
"Saya telah memerintahkan United States Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan, dengan harga yang sangat wajar, asuransi risiko politik dan jaminan untuk keamanan keuangan semua perdagangan maritim, terutama energi, yang melewati Teluk," kata Trump melalui Truth Social @realDonaldTrump, dikutip pada Rabu (4/3).
Trump menegaskan asuransi tersebut berlaku untuk semua perusahaan pelayaran. Ia bahkan menawarkan adanya pengawalan dari militer AS agar kapal yang membawa pasokan energi bisa melewati Selat Hormuz.
"Jika perlu, Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz sesegera mungkin. Apa pun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan arus energi yang bebas ke dunia," tegas Trump.
"Kekuatan ekonomi dan militer Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia. Tindakan lebih lanjut akan menyusul," tambahnya.
Pasokan Minyak RI 25 Persen Lewat Selat Hormuz, Bakal Dialihkan dari ASMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan sebanyak 20-25 persen pasokan minyak mentah Indonesia diimpor dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.
Bahlil mengatakan, Selat Hormuz membawa pasokan minyak mentah global sebanyak 20,1 juta barel per hari, termasuk untuk Indonesia.
"Total impor kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brasil. Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude 20-25 persen dari Selat Hormuz," ungkap Bahlil saat konferensi pers, Selasa (3/3).
Imbas dari dinamika tersebut, lanjut Bahlil, Indonesia perlu mengambil alternatif pasokan dari negara lain. Dia menyebutkan, untuk minyak mentah, seluruh pasokan akan dialihkan dari AS.





