IHSG Dibuka Melemah Seiring Lonjakan Harga Minyak dan Risiko Geopolitik

suarasurabaya.net
13 jam lalu
Cover Berita

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (4/3/2026) pagi mencatat pelemahan signifikan seiring sentimen risk-off dari investor yang mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah di pasar global.

IHSG dibuka turun 43,39 poin atau 0,55 persen ke level 7.896,38. Sementara itu, indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham unggulan juga melemah 3,29 poin atau 0,41 persen ke posisi 802,31.

“Secara teknikal, IHSG selangkah lagi menuju area support 7.900–7.840. Volatilitas pasar akan tinggi dalam dua pekan ke depan, sehingga strategi wait and see masih disarankan,” Liza Camelia Suryanata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Liza menambahkan, sentimen global kini didominasi mode risk-off karena konflik di Timur Tengah memasuki hari keempat, dengan eskalasi serangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Serangan Iran terhadap fasilitas energi dan kapal tanker di Teluk serta ancaman penutupan Selat Hormuz yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan energi dunia memicu kekhawatiran gangguan suplai global.

Akibatnya, harga minyak melonjak. Minyak Brent diperdagangkan di kisaran 81–82 dolar AS per barel, sementara WTI AS berada di level 74–75 dolar AS per barel, setelah sempat naik hampir 10 persen intraday, mencapai level tertinggi sejak 2024–2025.

“Lonjakan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi global karena energi menjadi komponen penting biaya produksi dan transportasi,” ujar Liza. Investor juga menilai konflik ini berpotensi berlangsung lebih lama, meningkatkan risiko inflasi energi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi global.

Akibatnya, pasar mulai meragukan prospek pemangkasan suku bunga The Fed hingga September 2026. Saat ini, Fed Fund Futures mencatat probabilitas sekitar 56 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Juni 2026.

Di sisi mata uang, dolar AS menguat tajam sebagai aset safe haven, mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terhadap Euro, Poundsterling, dan Yen Jepang. Sementara itu, harga emas global turun karena penguatan dolar dan aksi ambil untung investor.

Dilansir dari Antara, ketegangan geopolitik juga berdampak pada perdagangan global. Penutupan Selat Hormuz dapat mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sementara gangguan pelayaran mendorong lonjakan tarif pengiriman dan harga energi. Selain itu, sejumlah hub penerbangan utama di Timur Tengah, termasuk Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, terpaksa ditutup. Lebih dari 21.300 penerbangan dibatalkan, membuat puluhan ribu penumpang terdampak.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa U.S. Development Finance Corporation akan menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan perdagangan maritim di Teluk, serta kesiapan Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker jika diperlukan untuk memastikan kelancaran pasokan energi global.

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan mempublikasikan informasi kepemilikan saham di atas 1 persen setiap bulan melalui situs resmi BEI. Langkah ini diharapkan meningkatkan transparansi dan memperkuat kepercayaan investor.

Sementara itu, pasar global mengalami tekanan. Bursa saham Eropa, seperti Euro Stoxx 50, FTSE 100, DAX Jerman, dan CAC Prancis, kompak melemah antara 2,75–3,64 persen. Di Wall Street, Indeks Dow Jones turun 0,83 persen ke 48.501,27, S&P 500 turun 0,95 persen ke 6.816,63, dan Nasdaq melemah 1,09 persen ke 24.720,08. (ant/saf/ipg)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Xiaomi Bawa Leica Leitzphone ke RI: HP Edisi Terbatas, Punya Kamera Ring Zoom
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Arab Saudi Stop Impor Unggas dan Telur dari RI, Kemendag Ungkap Penyebabnya
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Korban Penipuan Online Bisa Dapat Uang Kembali, OJK Pulihkan Rp167 Miliar
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
KPK: Kasus Kuota Haji Eks Menag Yaqut Rugikan Negara Rp622 Miliar!
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Bahlil Lapor ke Prabowo, Pasokan BBM Jelang Lebaran Dipastikan Aman
• 7 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.