FAJAR, MAKASSAR — Malam di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, tidak berakhir dengan peluit panjang semata. Ia berubah menjadi panggung kegelisahan, kemarahan, sekaligus tanda tanya besar tentang arah PSM Makassar musim ini.
Kekalahan 2-4 dari Persita Tangerang bukan hanya soal tiga poin yang melayang. Bagi sebagian suporter, hasil itu menjadi simbol runtuhnya harapan yang perlahan terkikis sepanjang musim. Ketika peluit akhir dibunyikan, ratusan suporter merangsek masuk ke lapangan. Teriakan tuntutan tanggung jawab menggema, bercampur frustrasi yang lama terpendam.
Di tengah situasi panas itu, satu sosok justru tak terlihat: Tomas Trucha.
Pelatih asal Ceko tersebut langsung menuju ruang ganti, meninggalkan lapangan ketika pemain masih berusaha menenangkan massa. Ketidakhadirannya mempertebal persepsi bahwa krisis di tubuh Juku Eja bukan lagi sekadar persoalan taktik, melainkan juga soal komunikasi dan kepemimpinan di tengah tekanan.
“Mana tanggung jawabmu semua!” teriak seorang suporter dari tengah lapangan, suaranya tenggelam dalam riuh stadion.
Kapten tim Yuran Fernandes menjadi perwakilan pemain menghadapi suporter. Diskusi berlangsung alot. Nama Trucha berkali-kali dipanggil, namun sang pelatih tak kunjung muncul.
Beberapa pemain mencoba memastikan keberadaannya. Savio Roberto bahkan sempat masuk ke ruang ganti, lalu kembali dengan isyarat singkat: pelatih tidak bisa keluar.
Pelatih Absen, Rumor Menguat
Ketidakhadiran Trucha berlanjut hingga sesi konferensi pers pascalaga. Media Officer PSM, Sulaiman Abdul Karim, menjelaskan bahwa sang pelatih tidak hadir karena alasan kesehatan.
Namun di tengah atmosfer klub yang sedang goyah, penjelasan tersebut justru memunculkan spekulasi baru.
Nama Tony Ho tiba-tiba kembali mengemuka.
Pelatih lokal berpengalaman itu dirumorkan menjadi kandidat kuat untuk mengambil alih kursi kepelatihan PSM Makassar. Hingga kini manajemen memang belum mengeluarkan pernyataan resmi, tetapi absennya Trucha di momen krusial membuat isu pergantian pelatih semakin sulit dihindari.
Tony Ho bukan figur asing bagi publik Makassar. Ia memiliki sejarah panjang bersama PSM, baik sebagai pemain, pelatih, maupun bagian dari staf kepelatihan. Pengalamannya juga meluas ke sejumlah klub besar Indonesia seperti Arema Malang, Persela Lamongan, dan Persebaya Surabaya.
Kedekatannya dengan kultur sepak bola lokal membuat namanya dianggap sebagai opsi realistis di tengah kebutuhan stabilitas cepat.
Rumor lain bahkan menyebutkan kemungkinan skenario kompromi: Tomas Trucha tetap berada di klub, tetapi bergeser ke posisi direktur teknik.
Sebuah langkah yang, jika benar terjadi, menandai perubahan arah manajemen dalam merespons tekanan suporter.
Anomali Performa yang Belum Terjawab
Dalam konferensi pers, asisten pelatih Ahmad Amiruddin tampil menggantikan Trucha. Ia tidak berusaha menutupi kekecewaan.
Permintaan maaf disampaikan secara terbuka kepada manajemen dan suporter. Namun yang lebih menarik adalah pengakuannya tentang misteri performa tim.
Menurut Amiruddin, PSM menunjukkan kualitas permainan yang menjanjikan selama sesi latihan. Intensitas, organisasi permainan, hingga penyelesaian akhir terlihat meyakinkan. Tetapi semua itu seolah menghilang saat pertandingan resmi dimulai.
“Problem utama kami sedang kami pelajari sampai hari ini, kenapa performa di latihan dan pertandingan jauh berbeda,” ujarnya.
Fenomena itu terlihat jelas dalam laga melawan Persita. PSM mampu mencetak dua gol—indikasi bahwa potensi menyerang masih ada. Namun di saat bersamaan, lini pertahanan justru menjadi titik rapuh dengan empat gol bersarang di gawang sendiri.
Keyakinan yang dibangun di ruang latihan runtuh ketika tekanan pertandingan datang.
Klub Besar di Titik Persimpangan
PSM Makassar kini berada dalam fase yang tidak nyaman. Rentetan hasil buruk membuat posisi tim di klasemen belum sepenuhnya aman. Lebih dari itu, hubungan emosional antara tim dan suporter mulai diuji.
Amukan suporter selepas pertandingan menjadi alarm keras bahwa kesabaran publik memiliki batas.
Dalam sejarahnya, PSM bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah identitas kota, simbol kebanggaan regional, sekaligus ruang ekspresi kolektif masyarakat Makassar. Ketika performa tim merosot, reaksi yang muncul sering kali melampaui dimensi olahraga semata.
Di titik inilah keputusan manajemen menjadi krusial.
Apakah mempertahankan Trucha sebagai bagian dari proyek jangka panjang? Atau menghadirkan figur seperti Tony Ho yang dianggap memahami karakter lokal dan mampu meredam gejolak dalam waktu singkat?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin segera datang.
Untuk sementara, yang tersisa hanyalah ketidakpastian—dan ruang ganti PSM yang kini terasa lebih sunyi dari biasanya.
Di tengah rumor yang terus bergulir, satu hal menjadi jelas: krisis bukan lagi kemungkinan, melainkan kenyataan yang harus segera dihadapi Juku Eja.




