Bagaimana Seharusnya Suami Istri Bertengkar?

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pernikahan yang bahagia bukan hanya soal menaati aturan dan menghindari kesalahan. Bukan pula sekadar tidak berbuat salah satu sama lain.

Ada satu pelajaran penting yang harus dipelajari pasangan suami istri: bagaimana mengelola konflik.

Karena itu, “Seni Bertengkar bagi Suami Istri” memiliki tujuh prinsip penting yang wajib dipelajari.

1. Pertengkaran Itu Wajar

Dalam pernikahan, pertengkaran hampir tidak bisa dihindari. Itu adalah hal yang normal dan tidak perlu ditakuti.

Suami dan istri berbeda jenis kelamin, berbeda kepribadian, pola pikir, kebiasaan, dan latar belakang. Saat pacaran, banyak hal masih bisa ditutupi. Setelah menikah dan hidup bersama setiap hari, interaksi menjadi intens. Konflik kecil maupun besar pasti terjadi.

Jika setiap konflik dianggap sebagai tanda bahwa pasangan tidak cocok, itu keliru.

Sebaliknya, jika menganggap pernikahan bahagia berarti tidak pernah bertengkar, lalu memilih menahan diri habis-habisan demi menjaga “damai semu”, itu juga tidak sehat.

Pasangan yang tahu cara bertengkar justru akan semakin dekat. Dan seiring waktu, frekuensi pertengkaran akan semakin berkurang.

2. Pertengkaran Adalah Soal Sudut Pandang, Bukan Benar atau Salah

Banyak pertengkaran terjadi karena masing-masing merasa hanya ada satu jawaban yang benar.

“Pasti aku yang benar, dan kamu yang salah.”

Jika dua orang berpikir seperti itu, konflik tidak akan ada habisnya.

Padahal dalam kehidupan rumah tangga, banyak persoalan sebenarnya hanyalah perbedaan sudut pandang, bukan persoalan benar atau salah mutlak.

Orang yang “pandai bertengkar” akan berusaha memahami maksud pasangannya dan melihat di mana perbedaan itu terjadi.

Orang yang tidak pandai bertengkar hanya ingin menjatuhkan lawan debatnya. Yang penting ia terbukti benar. Akibatnya? Keduanya terluka.

3. Dalam Pernikahan, Dahulukan Perasaan, Bukan Logika

Ciri umum orang bertengkar adalah ingin memenangkan logika. Mereka mencari kesalahan kata, celah logika, dan menyerang habis-habisan.

Masalahnya, ketika terlalu sibuk membela logika, perasaan justru terluka.

Menang dalam argumen sering kali berarti kalah dalam hubungan.

Dalam pernikahan, menyelesaikan konflik dengan dasar kasih sayang jauh lebih membangun daripada debat panjang penuh analisis.

4. Jangan Pernah Bertengkar di Depan Orang Ketiga

Banyak orang mencari dukungan dengan mengadu kepada pihak ketiga—orang tua, teman, rekan kerja—demi membuktikan dirinya benar.

Untuk mendapatkan simpati, ia mulai membuka kekurangan pasangannya.

Kebiasaan ini sangat merusak hubungan.

Pasangan yang bijak akan menyelesaikan konflik secara langsung, berdua. Semakin sedikit campur tangan orang luar, semakin besar peluang hubungan itu pulih.

5. Jangan Berusaha Menang

Dalam pertengkaran suami istri, tidak ada pemenang. Siapa pun yang menang, hubungan tetap kalah.

Orang yang tahu cara bertengkar hanya menyampaikan inti persoalan, tidak pernah berniat “menghancurkan” lawan.

Ada penelitian di Amerika terhadap para istri korban kekerasan. Ditemukan bahwa banyak dari mereka selalu memenangkan perdebatan secara verbal. Suami yang merasa kalah secara kata-kata akhirnya melampiaskan frustrasinya dengan kekerasan fisik.

Ini menunjukkan bahwa memenangkan pertengkaran tidak membawa keuntungan nyata—bahkan bisa membawa bahaya.

Orang yang dewasa selalu memberi ruang bagi pasangannya untuk menjaga harga diri.

6. Fokus pada Fakta, Jangan Membesar-besarkan Perasaan

Pertengkaran pasti ada sebabnya.

Orang yang bijak akan menyampaikan fakta situasi dan kebutuhannya.

Sebaliknya, orang yang tidak dewasa cenderung menggunakan kata-kata berlebihan dan menyakitkan.

Misalnya, seorang istri sibuk mengurus empat anak kecil hingga rumah berantakan.

Jika suami berkata,
“Sayang, kamu pasti sangat sibuk. Di dapur bahkan tidak ada piring bersih.”

Kalimat itu menyampaikan fakta sekaligus empati.

Namun jika suami berkata,
“Kamu ini malas dan jorok sekali!”

Perang besar tidak terhindarkan.

7. Yang Mengalah Lebih Dulu Justru Lebih Berani

Karena pertengkaran sering hanya soal sudut pandang, orang yang matang akan berusaha meredakannya.

Cara terbaik meredakan konflik adalah mengakui bahwa mungkin pasangan memiliki sudut pandang yang lebih baik.

Butuh kepercayaan diri dan kedewasaan untuk melakukannya.

Mengalah kepada pasangan bukanlah kerugian, melainkan investasi dalam hubungan.

Namun ketika pasangan sudah lebih dulu mengalah, jangan mempermalukannya dengan berkata,
“Kan sudah kubilang kamu salah!”

Sebaliknya, hargai dan hormati sikapnya. Dengan begitu, lain kali ia akan lebih mudah melunak.

Renungan

Bertengkar adalah seni yang sulit.

Menang logika bisa melukai perasaan. Mengutamakan perasaan bisa terasa seperti kehilangan prinsip. Kadang kita takut jika terlalu lembut, pasangan akan semakin semena-mena.

Padahal pertengkaran juga ujian kecerdasan emosional (EQ).

Orang dengan EQ baik mampu menahan kata-katanya, mempertimbangkan perasaan pasangan, dan tidak mengungkit masa lalu.

Sebaliknya, orang dengan EQ rendah menjadikan setiap kalimat seperti jarum yang menusuk hati. Ia membuka luka lama, menyakiti lebih dalam, dan memperumit masalah.

Jika kita sering menggunakan kata-kata tajam atau mengungkit masa lalu saat bertengkar, tanpa perlu melihat siapa yang benar, itu sudah cukup menjadi bahan introspeksi.

Ketika pasangan memilih mengalah, jangan selalu berpikir kita benar. Bisa jadi ia mengalah karena ia mencintai kita.

Jika dipahami seperti ini, hubungan justru semakin kuat.

Bahkan setelah pertengkaran, jika pihak yang “menang” mau mendekat dengan lembut, bercanda, atau menunjukkan perhatian, kemarahan pasangan akan cepat mereda.

Karena dalam pernikahan, sering kali berlaku ungkapan lama:
bertengkar di kepala ranjang, berdamai di ujung ranjang.

Terakhir, pertengkaran juga bentuk komunikasi.

Jika seseorang masih mau bertengkar denganmu, artinya ia masih peduli dan ingin memperbaiki hubungan.

Namun jika seseorang bahkan tidak mau bertengkar lagi…
mungkin hatinya sudah lelah, dan hubungan itu benar-benar berada di ujung jalan. (jhon)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Skenario Evakuasi 15 WNI di Iran: Rute Jalur Darat 10 Jam ke Azerbaijan
• 7 jam lalusuara.com
thumb
Foto: Ribuan Warga Venezuela Tuntut Pembebasan Nicolas Maduro dari Penahanan AS
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Jakarta Rabu 4 Maret 2026, Ini Biaya Perpanjangannya
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Pengacara Suap Hakim Kasus Minyak Goreng Divonis 14 & 16 Tahun Penjara
• 16 jam laludetik.com
thumb
Terkait OTT Bupati Pekalongan, KPK Bawa 11 Orang Lain ke Jakarta untuk Diperiksa
• 18 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.