- Presiden Prabowo mengundang tokoh politik senior merespons eskalasi konflik AS-Iran sebagai manajemen risiko politik domestik.
- Pertemuan ini bertujuan membangun legitimasi kolektif untuk kebijakan ekonomi sulit akibat potensi gejolak energi global.
- Langkah tersebut menegaskan posisi diplomasi Indonesia tidak terseret dalam blok geopolitik tertentu, menjaga kesinambungan politik luar negeri.
Suara.com - Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para mantan presiden dan wakil presiden, mantan menteri luar negeri, hingga ketua umum partai politik di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran dinilai memiliki makna strategis yang mendalam.
Langkah ini dipandang bukan sekadar respons terhadap situasi geopolitik, melainkan upaya konsolidasi politik domestik.
Pengamat politik Arifki Chaniago menilai langkah tersebut sebagai bentuk manajemen risiko politik jangka menengah. Menurutnya, Prabowo tengah mengantisipasi dampak domino dari ketegangan di Timur Tengah terhadap stabilitas di dalam negeri.
“Ini bukan hanya soal perang di Timur Tengah. Ini soal bagaimana Presiden Prabowo mengelola potensi dampak politik di dalam negeri. Geopolitik sering kali menjadi pemicu tekanan ekonomi, dan tekanan ekonomi bisa cepat berubah menjadi tekanan politik,” ujar Arifki kepada wartawan, Rabu (4/3/2026).
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic ini menjelaskan, bahwa konflik AS–Iran sangat berkaitan dengan isu energi global.
Jika harga minyak dunia melonjak dan memicu inflasi, pemerintah kemungkinan besar harus mengambil kebijakan ekonomi yang sulit. Pertemuan dengan para tokoh senior dianggap sebagai upaya membangun legitimasi kolektif.
“Kalau nanti ada kebijakan yang tidak populer akibat situasi global, pemerintah bisa menunjukkan bahwa langkah itu lahir dari pembacaan kolektif para negarawan, bukan keputusan satu figur,” jelasnya.
Selain isu ekonomi, Arifki melihat pertemuan tersebut sebagai strategi untuk membangun “tameng politik” guna menepis opini publik terkait posisi diplomasi Indonesia.
Hal ini penting untuk menegaskan bahwa Indonesia tidak terseret ke dalam blok tertentu, termasuk keterlibatan dalam blok perdamaian yang dipelopori Donald Trump.
Baca Juga: Prabowo Evaluasi Keanggotaan Indonesia di Board of Peace Pasca-Agresi AS ke Iran, Siap Keluar?
“Serangan AS dan Israel terhadap Iran bisa memperuncing persepsi bahwa Indonesia berada dalam orbit tertentu. Dengan mengundang tokoh-tokoh senior, Presiden Prabowo mengirim pesan bahwa arah kebijakan luar negeri tetap melalui pertimbangan luas, bukan karena tekanan blok mana pun,” katanya.
Ia menekankan bahwa pertemuan lintas generasi ini menunjukkan adanya kesinambungan dalam arah politik luar negeri Indonesia.
“Pesannya, kebijakan luar negeri Indonesia tidak berubah karena pergantian presiden. Ada garis merah kepentingan nasional yang dijaga lintas generasi,” tegas Arifki.
Lebih lanjut, Arifki menyimpulkan bahwa stabilitas domestik adalah aset paling strategis di tengah dunia yang terfragmentasi. Pertemuan tersebut merupakan langkah awal pemerintah dalam mengelola risiko sebelum dampak global benar-benar memengaruhi politik dalam negeri.
“Dalam geopolitik, yang diuji bukan hanya keberanian mengambil posisi, tapi kemampuan mengelola konsekuensinya ke dalam politik dalam negeri. Pertemuan ini adalah bagian dari upaya mengelola konsekuensi itu sejak awal,” pungkasnya.




