Tekan Risiko Obesitas dengan Membatasi Gula, Garam, dan Lemak

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Di tengah gaya hidup yang serba cepat, pangan olahan dan siap saji semakin menjadi pilihan banyak orang. Selain karena praktis, produk ini juga gampang ditemukan dan punya masa simpan yang lebih lama sehingga tak heran makanan olahan kerap andalan di sela aktivitas padat.

Namun di balik kemudahannya, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Konsumsi kalori berlebihan dalam jangka panjang, baik dari pangan olahan maupun siap saji, dapat meningkatkan risiko obesitas dan berbagai penyakit tidak menular.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi obesitas nasional pada penduduk usia ≥18 tahun naik dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Angka ini menjadi alarm bahwa persoalan obesitas semakin serius.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan, Dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang berdampak serius terhadap kesehatan dan bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup semata.

“Sebagian besar asupan kalori harian masyarakat sebenarnya masih berasal dari pangan olahan dan siap saji. Karena itu, yang terpenting adalah menerapkan pola makan seimbang, memperhatikan porsi, serta menghindari konsumsi berlebihan agar risiko obesitas dapat ditekan,” kata Nadia dalam acara media briefing bertema “Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas yang digelar oleh Nutrifood bersama Kemenkes di Restoran Bunga Rampai Menteng, Selasa (3/3).

Momentum Hari Obesitas Sedunia pada hari ini pun dimanfaatkan untuk mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam memilih makanan, termasuk produk olahan.

Melalui kampanye #BatasiGGL yang telah berjalan sejak 2013 bersama Kementerian Kesehatan dan BPOM, Nutrifood mengajak masyarakat membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).

Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana, mengatakan bahwa pangan olahan dan siap saji yang beredar saat ini sangat beragam. Oleh karena itu, konsumen perlu mencermati informasi pada label kemasan, seperti takaran saji, total energi, persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG), serta komposisi bahan.

Di tengah banyaknya pilihan produk di pasaran, literasi membaca label menjadi keterampilan dasar yang tak boleh diabaikan. Takaran saji yang terlihat kecil, misalnya, bisa saja berbeda dengan jumlah yang benar-benar dikonsumsi.

“Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat mengontrol asupan gula, garam, dan lemak sesuai kebutuhan hariannya,” kata dia.

Menurut Susan, Nutrifood sebagai produsen makanan dan minuman kesehatan juga mendukung upaya pencegahan obesitas di Indonesia melalui penyediaan produk yang aman, berkualitas, dan bernutrisi.

“Sebagai bagian dari solusi, Nutrifood secara konsisten menjalani kampanye #BatasiGGL melalui insiatif berkelanjutan, mulai dari inovasi produk, program edukasi literasi gizi, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak,” jelasnya.

Pangan Olahan Tidak Selalu Buruk

Direktur SEAFAST Center IPB, Dr. Puspo Edi Giriwono, menjelaskan bahwa pangan olahan pada dasarnya merupakan bagian dari sistem pangan modern yang dikembangkan berbasis sains dan teknologi. Tujuannya adalah meningkatkan keamanan, mutu, masa simpan, hingga kemudahan konsumsi.

Bahan tambahan pangan yang tercantum pada kemasan juga telah melalui kajian keamanan serta memiliki batas konsumsi yang diatur sesuai regulasi. Artinya, produk tersebut aman dikonsumsi selama sesuai ketentuan.

Tantangan utamanya justru terletak pada pemahaman konsumen terhadap proses pengolahan, komposisi bahan, dan informasi gizi yang tertera. Menurut Puspo, edukasi publik dinilai menjadi kunci untuk menurunkan risiko obesitas tanpa harus membatasi akses terhadap pangan.

“Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat memilih pangan secara lebih bijak dan bertanggung jawab, serta berperan aktif dalam upaya mencegah obesitas,” tutup Puspo.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OJK Imbau Lembaga Keuangan Antisipasi Dampak Perang Iran
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kemenekraf: Ekonomi Digital Kurangi Pengangguran
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Sopir Truk yang Terlibat Kecelakaan Beruntun di Exit Tol Bawen Diamankan
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Korlantas Polri Matangkan Strategi Pengamanan Arus Mudik Lebaran 2026 Lewat Tactical Floor Game
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Kehamilan Ketiga Lesti Kejora Berisiko, Diminta Dokter Setop Hamil Lagi
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.