Shahed-136, "AK-47 Udara", Iran yang Mengubah Peta Perang

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

”Shahed”, yang berarti saksi dalam bahasa Persia, adalah seri pesawat nirawak Iran yang membuat Israel, Amerika Serikat, dan negara lainnya keteteran. Drone ”murah” kamikaze ini begitu efektif dalam perang, hingga negara adidaya pun menirunya. Kehadirannya disebut sebagai “AK-47 versi udara” yang potensial mengubah peta perang dunia.

Suara dengung seperti mesin pemotong rumput raksasa membelah malam. Dari kegelapan, sebuah pesawat tanpa awak datang dengan cepat dan meledak tepat saat menabrak sebuah gedung di Bahrain.

Di Saudi Arabia, dua drone dengan tipe yang sama mengenai kedutaan besar Amerika Serikat. Ribuan lain menyerang berbagai negara teluk, dan tentunya Israel.

Ini adalah drone Shahed-136 milik Iran yang menjadi senjata utama dalam kecamuk perang kali ini. Sebuah pesawat nirawak yang begitu efektif, murah, dan efisien dalam tahap awal peperangan. Ia datang bersamaan dengan rudal yang dikirim dari Teheran.

“Ancaman dari UAV serang satu arah tetap ada,” kata Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, dalam sebuah pengarahan pada hari Senin (2/3/2026) seperti disadur dari NBC News.

“Sistem kami telah terbukti efektif dalam melawan platform-platform ini, dan menyerang target dengan cepat.” kata dia.

Namun, pencegatan itu menelan biaya yang tinggi. Amerika dan sekutunya biasanya mengerahkan pesawat atau sistem pertahanan udara untuk melindungi dari pemboman. Biayanya disebut jauh lebih besar ketimbang satu Shahed.

Harga satu Shahed diperkirakan berkisar antara 25.000 dollar AS hingga 50.000 dollar AS, atau sekitar Rp 425 juta hingga Rp 850 juta. Sementara itu, operasional satu pesawat pencegat atau rudal bisa berharga 10 kali lipat bahkan lebih.

“Jika ini berlanjut lebih lama, mereka mungkin harus menemukan cara yang lebih berkelanjutan untuk melakukannya,” kata Kelly Grieco, seorang peneliti senior di Stimson Center, sebuah lembaga think tank di Washington, seperti dikutip dari Reuters.

Grieco menghitung, untuk setiap 1 dollar AS yang dihabiskan Iran untuk memproduksi drone Shahed, Uni Emirat Arab mengeluarkan biaya sekitar 20-28 dollar AS untuk mencegatnya.

Maka, Amerika lalu menggunakan metode yang sama dengan Iran. Untuk pertama kalinya, mereka menggunakan drone murah satu arah dalam penyerangan ke Teheran beberapa hari terakhir. Pesawat nirawak tersebut dinamai The Low-Cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS).

Drone ini menggunakan arsitektur terbuka yang memungkinkan berbagai muatan dan sistem komunikasi, dan dapat diluncurkan dari darat atau truk. Dengan harga sekitar 35.000 dollar AS per unit (sekitar Rp 590 juta), drone ini jauh lebih murah daripada MQ-9 Reaper, yang harganya sekitar 20 juta-40 juta dollar AS.

Steve Feldstein, Peneliti senior dari Carnegie Endowment for International Peace menjabarkan, adopsi drone serang satu arah oleh Amerika, yang berasal dari unit Shahed-136 Iran, menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak mengalir satu arah dari negara yang lebih maju ke negara yang kurang maju. Sebaliknya, hal itu menunjukkan bahwa inovasi baru bisa berasal dari berbagai sumber.

“Desain Iran telah jelas menunjukkan manfaatnya, termasuk di Ukraina, hingga Rusia menginvestasikan 2 miliar dollar AS untuk mendirikan pabrik khusus untuk memproduksi model drone ini (yang disebut unit Geran-2). Tidak mengherankan jika Amerika Serikat juga meniru desain ini” tuturnya seperti dikutip dari The Guardian.

Aspek penting kedua, ia melanjutkan, adalah bahwa desain pesawat nirawak ini menggarisbawahi pentingnya efisiensi biaya. Sederhananya, Amerika Serikat tidak memiliki sumber daya yang tak terbatas.

Jauh lebih hemat biaya untuk mengerahkan drone LUCAS yang murah dibandingkan dengan menggunakan rudal jelajah Tomahawk, yang harganya sekitar 2,5 juta dollar AS per unit untuk versi terbaru.

Meskipun Tomahawk mungkin memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih tinggi, penggunaannya dibatasi oleh biaya. Drone berbiaya rendah ini mewakili wawasan baru dalam peperangan modern, yaitu jumlah itu penting, biaya dapat menjadi penentu, dan presisi yang "cukup baik" dapat memberikan keuntungan yang signifikan.

AK-47 Versi Udara

Perang drone memang kian meluas, utamanya sejak dimulainya agresi Rusia ke Ukraina. Dan, ini dimulai dari lahirnya drone Shahed-136.

Pesawat nirawak ini telah digunakan dalam ribuan misi oleh militer Rusia. Laporan Angkatan Bersenjata Ukraina menunjukkan, lebih dari 4.600 unit telah diluncurkan dari 2022 hingga awal 2024.

Catatan ini dikumpulkan dari drone yang berhasil mencapai wilayah Ukrana. Dalam satu gelombang serangan, Rusia bisa meluncurkan hingga 130 unit sekaligus sebagai strategi yang bertujuan membingungkan sistem pertahanan udara Ukraina.

Shahed-136 adalah drone kamikaze atau bunuh diri yang dirancang untuk sekali jalan, tanpa pulang. Begitu diluncurkan, ia akan melayang di udara mencari sasaran hingga akhirnya menukik dan meledak bersama hulu ledaknya.

Ditenagai mesin bensin 2-tak sederhana dan baling-baling kayu, drone ini memang terlihat biasa dan tanpa roda pendarat, tanpa desain aerodinamis futuristik, bahkan tanpa rudder (kemudi). Tapi, justru itulah kekuatannya: sederhana, murah, dan efektif.

Panjangnya sekitar 3 meter dan lebar 2,5 meter. Terlalu besar dan berat untuk diangkat satu orang, tetapi lebih kecil jika dibanding drone ukuran medium, seperti Bayraktar TB-2 milik Turk, dengan ukuran panjang dan bentangan sayap beberapa kali lipat lebih besar dari Shahed-136.

Dengan bentuk badan sekaligus merangkap sayap berdesain segitiga, Shahed-136 kerap disebut berdesain delta wings. Dibandingkan drone berbentuk pesawat seperti Bayraktar TB-2, badan drone Shahed-136 terlihat seperti segitiga alumunium dengan ujung berbentuk pipa bulat pejal.

Meski desainnya sederhana, daya jelajahnya luar biasa: mencapai 2.000 km, dengan waktu terbang hingga 12 jam. Drone ini dapat terbang rendah di ketinggian 20-30 meter untuk menghindari radar, tetapi juga mampu melesat di ketinggian 5,2 kilometer apabila diperlukan.

Serangan dari ketinggian rendah membuatnya sulit dideteksi sekaligus sulit ditembak secara manual. Dengan hulu ledak 20–40 kg, Shahed-136 mampu merusak infrastruktur penting seperti pusat energi dan markas militer.

Biaya rendah juga memungkinkan produksi massal dan penggunaan dalam strategi swarm attack alias serangan berkerumun yang sulit ditangkal. Keberhasilan Shahed-136 membuat dua negara adidaya, Rusia dan China, berlomba-lomba membuat tiruannya.

Rusia menyebut versinya, yakni drone Geran-2, yang mulai digunakan sejak perang Ukraina memanas tahun 2022. Sementara itu, China meluncurkan varian bernama Sunflower 200, dengan spesifikasi yang hampir identik dengan Shahed-136.

Drone ini bukan hanya simbol aliansi militer baru antara Iran-Rusia-China, melainkan juga mencerminkan pergeseran paradigma senjata modern: dari high-tech ke smart-cheap. Ukraina pun tak tinggal diam. Mereka bertekad membuat versi domestik Shahed-136 guna menyeimbangkan kekuatan drone dalam menghadapi gempuran Rusia (Kompas, 15 Juni 2025).

Baca Juga”Drone” Iran Hantam Kantor CIA di Riyadh
Baca Juga”Drone” Tempur Iran Versus Pertahanan Berlapis Israel

Feldstein mengatakan, poin penting dari perkembangan ini adalah dunia sedang memasuki era baru perang drone, karena pesawat tanpa awak semakin banyak digunakan di medan perang dalam konflik besar maupun kecil.

Pesawat-pesawat ini memberikan pilihan baru bagi musuh di darat dan menawarkan cara asimetris bagi militer yang lebih lemah untuk menimbulkan kerugian bagi militer yang lebih besar.

”Pada tahun 2025, data menunjukkan bahwa terdapat 58.272 peristiwa udara atau drone yang menyebabkan 32.769 korban jiwa. Angka-angka ini hanya akan meningkat seiring drone menjadi andalan di medan perang,” jelas Feldstein.

Baca JugaPerang dan Alutsista Canggih di Era AI
Baca JugaPerang ”Drone” India-Pakistan, Babak Baru Perlombaan Senjata di Asia


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gondola Terempas Angin Kencang di Surabaya, Pekerja Pembersih Gedung Tewas di Lantai 25 Apartemen
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
BNPB salurkan Rp205 M lagi dana perbaikan rumah rusak di Sumatera
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Satgas Dinas PU Makassar Gerak Cepat Bersihkan Sisa Material PKL di Bontoala
• 21 jam laluterkini.id
thumb
Prabowo Bahas Mitigasi Dampak Konflik Global Bersama Mantan Presiden RI
• 14 jam lalueranasional.com
thumb
Uji BPOM Negatif, BGN Pastikan Kematian Siswa di Bengkulu Utara Tak Terkait MBG
• 7 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.