Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (2 Maret) mengungkapkan bahwa operasi militer terhadap Iran berkembang sangat cepat, jauh melampaui rencana awal yang diperkirakan berlangsung empat minggu. Para pakar menilai, konflik ini berpeluang mengalami titik balik atau bahkan memasuki tahap akhir dalam satu hingga dua minggu. Seiring tewasnya Ali Khamenei, dunia luar memperkirakan Iran akan bergerak menuju de-ekstremisasi agama, membentuk pemerintahan sekuler, dan sepenuhnya menghilangkan ancaman regional. Berikut analisis para ahli.
EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam wawancara media bahwa tempo keseluruhan operasi militer terhadap Iran melampaui ekspektasi; semula operasi direncanakan selesai dalam empat minggu.
Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, pada hari yang sama juga menyampaikan bahwa operasi tempur telah mencapai efek yang diharapkan, membuat Iran terkejut dan jatuh ke dalam kekacauan.
Sejumlah pakar menilai, jika perkembangan saat ini berlanjut, konflik ini sangat mungkin mengalami perubahan besar—bahkan memasuki tahap penutupan—dalam satu hingga dua minggu ke depan.
“Pada tahap ini, fokus militer AS adalah penyerangan terarah untuk menyingkirkan lapisan pimpinan, sehingga rezim Iran runtuh. Perang ini seharusnya tidak akan berlangsung lama. Ketika persenjataan Iran—baik rudal darat-udara, darat-darat, maupun pesawat tempur—hampir habis, Iran kemungkinan akan menyatakan kesediaannya untuk berunding dengan Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Israel sebagai kekuatan gabungan. Harapannya, dalam satu hingga dua minggu ke depan perang bisa diakhiri,” ujar profesor kajian internasional Universitas St. Thomas, Yeh Yao-yuan.
Pembawa acara Mark Space-Time dan Chronicles of Current Affairs, Mark, menilai: “Trump menggunakan serangan dahsyat dan menghancurkan untuk membuat kepercayaan diri internal Iran runtuh total, memecah belah, dan mendorong lebih banyak pihak ‘lompat kapal’. Situasi ini bisa berubah drastis dalam waktu satu minggu atau bahkan lebih singkat.”
Pengamat menyoroti bahwa setelah pemimpin diktator Iran Khamenei dan jajaran elitnya diserang, struktur kekuasaan Iran menghadapi kekosongan. Banyak pihak menilai rezim Iran kini berada di titik kritis hidup-mati.
Namun ada pula pandangan yang menyebutkan bahwa, karena struktur khusus Garda Revolusi Iran, Iran belum sepenuhnya berada dalam kondisi “tanpa kepala”.
Yeh Yao-yuan menjelaskan : “Tidak sepenuhnya tanpa pemimpin, karena Garda Revolusi tidak selalu tunduk pada satu figur tertentu. Namun kemampuan militer mereka terbatas. Dalam kondisi sekarang, saya melihat mereka sedang berjuang seperti binatang terpojok—berusaha merebut lebih banyak modal tawar untuk negosiasi setelah perang berakhir.”
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa setelah serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran, Teheran melancarkan aksi balasan terhadap negara-negara Teluk, dengan tujuan memperluas konflik, memicu sentimen anti-Amerika di kawasan, dan mengalihkan tekanan domestik. Namun Iran dinilai meremehkan kuatnya hubungan negara-negara Teluk dengan Amerika Serikat.
Para pakar juga menyatakan bahwa, setelah bertahun-tahun pemerintahan represif dan akumulasi ketidakpuasan sosial, serta dengan kematian Khamenei, langkah berikutnya dalam politik Iran kemungkinan melibatkan kerja sama antara putra mahkota terakhir yang kini hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, dan tokoh-tokoh berpengaruh dari Garda Revolusi Islam yang memiliki otonomi tinggi.
Mark menambahkan : “Selama rezim teokrasi ini masih ada, Timur Tengah akan tetap berada di bawah ancaman besar. Membangun pemerintahan yang lebih sekuler—non-religius—adalah tujuan akhir Amerika Serikat dan Israel. Apakah mereka akan mencari figur kuat untuk menggantikannya? Itu sangat mungkin.” (hui)
Laporan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Qiu Yue





