Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) membuka peluang menambah supplier emas seiring proyeksi peningkatan permintaan logam mulia dari masyarakat.
Perseroan menyatakan langkah tersebut akan dikaji dengan mempertimbangkan penerapan manajemen risiko yang tepat guna menjaga pasokan tetap aman dan berkelanjutan.
“Untuk memenuhi kebutuhan emas nasabah, saat ini kami telah bekerja sama dengan beberapa supplier dan tidak menutup kemungkinan ke depannya akan menambah supplier,” kata Direktur Sales and Distribution BSI Anton Sukarna dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Anton menilai, permintaan emas masih terus meningkat ke depan. Dalam setahun terakhir, harga emas menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, dengan kenaikan lebih dari 50%.
Adapun per hari ini, Rabu (4/3/2026), harga emas telah mencapai sekitar Rp3,1 juta per gram. Kenaikan ini turut mendorong minat masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen safe haven seperti emas.
Di sisi lain, Anton mengungkapkan bahwa minat nasabah BSI terhadap layanan emas melampaui ekspektasi. Selain karena instrumen emas ini unik, emas juga menjadi investasi yang aman dan mudah sesuai dengan prinsip syariah. Tren investasi emas juga mendorong pertumbuhan bisnis di BSI yang merupakan Bank Emas pertama di Indonesia.
Baca Juga
- BSI (BRIS) Fokus ke Payroll, Paylater Belum Masuk Agenda 2026
- BSI (BRIS) Siapkan Rp16 Triliun untuk Penukaran Uang Tunai Jelang Lebaran
- Rencana BSI (BRIS) Usai Purbaya Perpanjang Tenor Penempatan Dana di Himbara
Data BSI menunjukkan bahwa jumlah nasabah bullion bank perseroan dari Januari sampai dengan Februari 2026 meningkat 44% dan penjualan selama 2026 sudah mencapai 58% dari total penjualan pada 2025.
Manajemen menyebut, jumlah nasabah bullion bank BSI yang meningkat turut dipicu dari multiplier effect kondisi global terkait ketegangan di Timur Tengah yang memberikan pengaruh terhadap permintaan emas seiring dengan kenaikan harga emas.
“Ke depan, kami melihat permintaan emas masih terus meningkat. Untuk itu BSI akan memastikan kesiapan dari sisi persediaan, serta edukasi nasabah agar investasi emas dilakukan secara bertahap dan berorientasi jangka panjang,” ujarnya.
Anton juga memastikan bahwa perseroan telah memiliki inventory manajemen yang baik untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan emas.
“Dalam kondisi apapun, BSI selalu melakukan antisipasi atas ketersediaan stok yang memadai dari para supplier serta pengelolaan inventory management yang baik,” pungkasnya.





