BRIN dan Bulog Jajaki Teknologi Iradiasi untuk Jaga Stabilitas dan Masa Simpan Beras hingga 10 Bulan

pantau.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Organisasi Riset Tenaga Nuklir ORTN Badan Riset dan Inovasi Nasional menjajaki kolaborasi dengan Perum Bulog dalam pemanfaatan teknologi iradiasi untuk pengendalian hama pascapanen beras guna menjaga stabilitas pangan dan memperpanjang masa simpan hingga 10 bulan.

Kolaborasi tersebut dinilai krusial karena risiko kutu beras atau weevil kerap tidak terdeteksi sejak tahap penggilingan akibat telur yang menyerupai butiran beras dan dapat tersembunyi di dalam kemasan hingga berkembang selama masa penyimpanan.

Teknologi Iradiasi Putus Siklus Hama

ORTN BRIN menawarkan teknologi iradiasi pengion menggunakan berkas elektron berenergi tinggi atau electron beam irradiation untuk merusak struktur biologis telur, larva, maupun serangga dewasa sehingga siklus hidup hama terputus.

Metode ini tidak meninggalkan residu kimia dan tidak meningkatkan suhu produk secara signifikan sehingga dinilai lebih aman bagi mutu beras.

"Teknologi ini mampu memutus siklus hidup hama tanpa merusak mutu fisik dan kandungan gizi beras. Ini menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dibandingkan metode kimia konvensional," kata Peneliti ORTN BRIN Bimo Saputro.

Kepala ORTN BRIN Syaiful Bahkri menyampaikan dosis iradiasi yang dibutuhkan relatif rendah yakni sekitar 1 kilogray kGy hingga maksimal 3 kGy dan dapat diterapkan sebelum maupun setelah pengemasan sesuai strategi operasional.

"Dosis tersebut cukup untuk membasmi telur dan larva yang tersembunyi di dalam butiran beras. Namun, keberhasilan implementasi sangat bergantung pada tata kelola pergudangan, kemasan yang tertutup rapat, serta sistem pengendalian akses yang ketat," ujar Syaiful.

Pemetaan Gudang dan Uji Teknis Lanjutan

Dalam kolaborasi tersebut, peneliti ORTN BRIN melakukan kunjungan langsung ke gudang Bulog di Jakarta Timur untuk memetakan kondisi penyimpanan secara menyeluruh.

Pemetaan mencakup sistem ventilasi, tata letak karung, pola distribusi, hingga potensi titik masuk hama dari lingkungan sekitar sebagai dasar penyusunan solusi berbasis data lapangan.

Kapasitas layanan pada tahap awal percontohan ditargetkan mencapai 4 hingga 5 ton beras per hari.

Ke depan, BRIN dan Bulog akan melanjutkan kajian teknis terkait penentuan dosis optimal, uji keamanan pangan, serta evaluasi efektivitas metode iradiasi dibandingkan teknologi lainnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OJK Ungkap Modus Penipuan Ramadan, Salah Klik Rekening Auto Ludes
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
AS-Israel Serang Iran, AWG Menilai Board of Peace Bukan Instrumen Perdamaian
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Riset Katadata Ungkap Peluang Pindar sebagai Penggerak Ekonomi
• 22 detik lalukatadata.co.id
thumb
Bahlil: Stok Energi RI 23 Hari, Kini Bangun Storage Berkapasitas 3 Bulan di Sumatera
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Advokat Junaedi Saibih Divonis Bebas Terkait Kasus Suap Hakim CPO
• 18 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.