Negara yang Sibuk Berpencitraan, tapi Lupa Mengurus yang Paling Dasar

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pelayanan publik di Indonesia kerap terasa mahal, rumit, dan jauh dari rakyat, meski pemerintah terus menggaungkan kemajuan, transformasi digital, dan visi “Indonesia Emas”. Narasi pertumbuhan ekonomi, investasi, dan pembangunan infrastruktur memang terdengar meyakinkan. Namun di tingkat keseharian, banyak warga masih menghadapi persoalan mendasar dalam mengakses pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, dan administrasi kependudukan.

Pembangunan fisik berlangsung masif: jalan tol, gedung megah, dan proyek strategis nasional terus dikebut. Sayangnya, percepatan ini tidak selalu diiringi peningkatan kualitas pelayanan publik. Keluhan tentang rumitnya akses BPJS, antrean panjang di fasilitas kesehatan, bantuan sosial yang tidak tepat sasaran, hingga birokrasi kampus yang kaku masih sering terdengar. Masalahnya bukan semata kekurangan anggaran, karena alokasi untuk pendidikan dan kesehatan tergolong besar. Persoalan utama terletak pada orientasi kebijakan yang lebih menekankan pencitraan dan capaian jangka pendek dibanding pembenahan sistem yang menyentuh akar masalah.

Ada beberapa akar persoalan. Pertama, birokrasi yang masih hierarkis dan kurang transparan. Digitalisasi sering kali hanya memindahkan proses manual ke platform daring tanpa menyederhanakan prosedur, sehingga masyarakat tetap kesulitan menghadapi sistem yang membingungkan. Kedua, lemahnya budaya evaluasi. Banyak kebijakan diluncurkan secara seremonial, tetapi minim pengawasan dan evaluasi terbuka. Kritik pun kerap dipandang sebagai serangan politik, bukan bagian dari demokrasi. Ketiga, partisipasi publik yang cenderung simbolik. Suara petani, buruh, mahasiswa, dan pelaku UMKM belum sungguh-sungguh menjadi pertimbangan utama dalam perumusan kebijakan.

Yang dibutuhkan adalah pergeseran paradigma: dari sekadar “besar” menjadi “bermakna”. Reformasi birokrasi harus fokus pada penyederhanaan prosedur dan transparansi nyata, termasuk laporan evaluasi kebijakan yang mudah diakses publik. Penguatan lembaga pengawas independen juga penting agar kekuasaan tetap akuntabel dan ruang kritik terjaga.

Beberapa negara seperti Estonia dan negara-negara Skandinavia menunjukkan bahwa pelayanan publik yang efektif bertumpu pada integrasi sistem, transparansi, dan budaya integritas. Indonesia memang memiliki konteks berbeda, tetapi prinsip menempatkan rakyat sebagai pusat kebijakan bersifat universal.

Masyarakat pun memiliki peran: meningkatkan literasi politik dan menyuarakan aspirasi secara konstruktif. Namun partisipasi hanya bermakna jika negara membuka ruang dialog setara. Pada akhirnya, kemajuan sejati tidak diukur dari megahnya infrastruktur atau pengakuan internasional, melainkan dari kemudahan rakyat mengakses layanan dasar secara adil dan manusiawi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Putin Tawarkan Jadi Mediator Negara-negara Teluk dengan Iran
• 1 jam laludetik.com
thumb
Tak Lagi Cuek, Nagita Slavina Akui Kerap Dapat Teguran dari Raffi Ahmad
• 5 jam lalucumicumi.com
thumb
Punya Rp1,5 Juta Sudah Bisa Beli Xiaomi UltraThin Magnetic Power Bank 5000 15W dan Xiaomi Tag
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Komisaris Utama SCMA Borong 241,81 Juta Saham, Ini Tujuannya
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Pemulihan Tesso Nilo di Riau Butuh 9.966 Hektare Lahan Alternatif
• 4 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.