FAJAR, MAKASSAR — Arus informasi politik di media sosial yang kian deras dan kerap memicu polarisasi menuntut penguatan literasi kritis di kalangan mahasiswa.
Menjawab tantangan tersebut, Andi Sahtiani Jahrir bersama tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM) menggelar Pelatihan Analisis Wacana Kritis (AWK) bagi mahasiswa Himpunan Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia (HMPS Sasindo) UNM.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam membaca, menafsirkan, serta mengevaluasi wacana politik secara rasional dan objektif, terutama saat menghadapi narasi pro dan kontra yang berkembang di media massa maupun media sosial. Pelatihan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan mixed methods melalui kombinasi pre-test, post-test, observasi, kuesioner, diskusi, serta refleksi tertulis.
Ketua tim, Andi Sahtiani Jahrir, menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar mahasiswa tidak mudah terprovokasi oleh informasi politik yang beredar di ruang publik. Menurutnya, bahasa dalam wacana politik tidak pernah benar-benar netral.
“Bahasa tidak pernah netral. Setiap berita politik memiliki framing yang dapat menggiring opini publik serta membentuk cara pandang masyarakat terhadap suatu peristiwa atau tokoh tertentu. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan analisis wacana kritis agar mampu membaca informasi secara rasional, memahami kepentingan di balik teks, dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang bersifat manipulatif,” ujarnya.
Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan kemampuan analisis kritis yang signifikan. Rata-rata nilai pre-test peserta sebesar 55,8 meningkat menjadi 83,4 pada post-test. Observasi selama kegiatan juga mencatat 80,7 persen peserta aktif terlibat dalam diskusi dan praktik analisis teks politik.
Selain peningkatan nilai, tingkat kepuasan peserta tergolong tinggi. Berdasarkan kuesioner evaluasi, 88,5 persen peserta menilai materi pelatihan relevan, 84,6 persen menilai metode pembelajaran interaktif, dan 92,3 persen menilai fasilitator kompeten. Refleksi tertulis peserta menunjukkan perubahan sikap yang positif, yakni lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi, lebih mampu membedakan fakta dan opini, serta lebih toleran dalam menyikapi perbedaan pandangan politik.
Pelatihan AWK menekankan bahwa bahasa dalam teks politik kerap memuat ideologi, kepentingan, dan relasi kuasa tertentu. Melalui analisis terhadap contoh berita daring, pernyataan politik, serta konten media sosial, mahasiswa dibimbing mengidentifikasi berbagai strategi wacana, seperti framing, pelabelan, pengaburan aktor, serta praktik legitimasi dan delegitimasi.
Kegiatan PKM ini tidak hanya berdampak pada peningkatan aspek kognitif mahasiswa, tetapi juga membentuk sikap sosial yang lebih bijak dalam berdiskusi serta tidak mudah terprovokasi oleh narasi politik di ruang digital. Pelatihan Analisis Wacana Kritis dinilai efektif sebagai strategi penguatan literasi kritis mahasiswa guna mendukung terciptanya iklim demokrasi yang lebih sehat di ruang publik.
Kegiatan ini terlaksana dengan dukungan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, serta LP2M Universitas Negeri Makassar, dan kolaborasi aktif dari HMPS Sasindo UNM. Ke depan, program ini akan ditindaklanjuti melalui pengembangan modul pembelajaran dan diseminasi ilmiah. (*/)





