Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Memasuki hari ke-14 Ramadan, kenaikan harga telur ayam ras semakin terasa di sejumlah pasar tradisional. Tren kenaikan ini juga tercatat dalam data Badan Pusat Statistik yang dirilis Senin (2/3/2026), di mana telur menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi pada Februari 2026.
Dalam laporannya, BPS menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan. Kenaikan harga telur ayam ras terjadi di banyak wilayah, dipicu oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga serta kebutuhan industri kecil menjelang Idul Fitri.
Berdasarkan pantauan tvrinews.com di lapangan, Rabu (4/3/2026), pedagang mengaku telah merasakan dampak kenaikan harga sejak akhir Februari. Suryadi, pedagang telur di Pasar Kebayoran Lama, menuturkan bahwa harga dari pemasok terus meningkat beberapa hari terakhir.
Pedagang telur di Pasar Kebayoran Lama Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026). (dok. TVRINews/Nisa Alfiani)“Sudah beberapa hari ini harga naik terus. Biasanya kami jual sekitar Rp 28.000 per kilo, sekarang jadi Rp 31.000 sampai Rp 33.000 per kilo. Pembeli juga banyak yang mulai menstok untuk Ramadan,” ujar Suryadi kepada tvrinews.com, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa pasokan juga mulai berkurang.
“Kalau jelang Lebaran itu wajar naik, tapi tahun ini lebih awal. Stok dari agen tidak sebanyak biasanya. Jadi kami mengikuti harga kiriman mereka saja,” tuturnya.
BPS mencatat bahwa pola naiknya harga telur dipengaruhi fenomena musiman, termasuk peningkatan konsumsi masyarakat pada pertengahan Ramadan. Kenaikan yang terjadi pada hari ke-14 puasa ini mengindikasikan tekanan permintaan yang semakin kuat menjelang Idul Fitri.
Pemerintah pusat dan daerah terus memantau perkembangan harga serta pasokan pangan pokok. Upaya stabilisasi seperti operasi pasar dan koordinasi distribusi akan ditingkatkan untuk menjaga keterjangkauan harga dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi hingga Lebaran.
Editor: Redaktur TVRINews





