Hasil Penelitian UI Ungkap Mayoritas Siswa SD Jakarta Tidak Habiskan Makanan MBG

liputan6.com
10 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Hasil penelitian Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menunjukkan, mayoritas siswa sekolah dasar di Jakarta tidak menghabiskan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini menimbulkan potensi pemborosan makanan (food waste) dalam program tersebut.

Penelitian yang dilakukan di lima Sekolah Dasar (SD) di wilayah Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan dan Pusat ini dipimpin oleh Dosen Antropologi FISIP UI Dian Sulistiawati.

Advertisement

Penelitian berlangsung pada Juni hingga September 2025 dengan metode wawancara dan observasi langsung terhadap siswa, guru, pengelola sekolah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta Badan Gizi Nasional (BGN).

“Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran nyata yang rinci dan mendalam tentang pelaksanaan MBG di beberapa sekolah di DKI Jakarta,” ujar Dian. Dikutip dari website Fisip UI, Rabu (4/3/2026).

Dalam setiap kunjungan, tim peneliti menghabiskan satu hari di masing-masing sekolah dan mengamati proses siswa menyantap MBG di dua hingga tiga kelas. Berdasarkan temuan di lapangan, dari satu kelas yang berisi 32–34 siswa, hanya sekitar empat hingga lima siswa yang menghabiskan makanan yang disediakan.

“Bayangkan, di satu kelas itu hanya 4–5 siswa yang omprengnya benar-benar habis dan makanannya memang dimakan oleh siswa,” beber Dian.

Sebagian besar siswa lainnya tidak mengonsumsi makanan secara tuntas, bahkan ada yang hanya memakan dalam jumlah sangat sedikit. Di beberapa sekolah, siswa diperbolehkan membawa pulang sisa makanan karena tidak semua SPPG melarang hal tersebut.

Menurut Dian, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius penyelenggara program. MBG dirancang untuk memastikan asupan nutrisi anak terpenuhi, namun fakta di lapangan menunjukkan makanan yang disediakan belum sepenuhnya dikonsumsi penerima manfaat.

“Sungguh sangat ironis jika program yang bertujuan mengatasi persoalan makanan dan nutrisi, dengan biaya besar, justru berpotensi menyebabkan food waste,” ujarnya.

Lebih jauh, penelitian ini juga memetakan peluang, kendala, dan strategi pelaksanaan MBG di tingkat sekolah. Studi tersebut memandang MBG bukan sekadar program teknis penyediaan makanan, tetapi sebagai proses pembangunan yang dipengaruhi relasi sosial, infrastruktur, tata kelola, dan partisipasi aktor lokal.

Dalam konteks pelaksanaan, banyak menu yang dianggap asing oleh anak-anak, sehingga menurunkan minat konsumsi dan memicu sisa makanan. Dian menekankan bahwa makanan dan kebiasaan makan merupakan konstruksi budaya. Oleh karena itu, perubahan kebiasaan makan tidak cukup hanya melalui pemberian makanan.

“Diperlukan proses pembelajaran, edukasi rasa, jenis, dan makna makanan, serta pendekatan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan,” jelasnya.

Sebagai rekomendasi, Dian menyarankan agar program MBG disertai proses pembelajaran dan transmisi pengetahuan tentang makanan dan nutrisi oleh para ahli. Selain itu, SPPG dan guru perlu memastikan makanan benar-benar dikonsumsi untuk mencegah terjadinya pemborosan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
THR ASN dan BHR Ojol Naik, Pemerintah Targetkan Ekonomi Tumbuh 5,6 Persen di Q1 2026
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Pep Guardiola Sindir Arne Slot yang Keluhkan Bola Mati di Liga Inggris, Singgung Peran Arsenal hingga Minta Liverpool Beradaptasi
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
RI Tak Kecam Serangan AS-Israel ke Iran dan Tak Sampaikan Duka Kematian Khamenei
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
BMKG Ingatkan soal Kekeringan dan Kebakaran Hutan saat Musim Kemarau April Mendatang
• 2 jam laluokezone.com
thumb
Transjakarta Perpanjang Jam Operasional ke Terminal dan Stasiun Selama Arus Mudik
• 16 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.