Penyanyi dan penulis lagu Inggit A Wulan menghadirkan dua single terbarunya, yakni Serupa Embun dan Kesepian. Meski hadir dengan nuansa berbeda, keduanya memiliki benang merah yang sama yakni refleksi diri, rasa syukur, dan perjalanan spiritual manusia dalam menjalani kehidupan.
Serupa Embun dirilis pada 11 Februari 2026 lalu. Lagu ini menjadi penanda fase baru dalam perjalanan musikal Inggit A Wulan. Mengusung warna pop alternatif dengan aransemen full band yang hangat dan intim, lagu ini berbicara tentang pentingnya kesabaran dan rasa syukur.
Melalui lirik yang puitis, Inggit mengingatkan bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara. Setiap proses, setiap luka, dan setiap waktu yang berlalu adalah bagian dari pembelajaran yang patut dihargai.
Lagu Serupa Embun ditulis dan diproduseri langsung oleh Inggit A Wulan. Lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadi. Video musiknya digarap dengan konsep full band dari ide orisinal Inggit sendiri, di mana ia juga bertindak sebagai produser.
Soal Lagu Kesepian yang Dinyanyikan Inggit A WulanSetelah itu, Inggit menghadirkan single religi berjudul Kesepian. Jika Serupa Embun berbicara tentang refleksi hidup secara umum, Kesepian menyelami ruang batin yang lebih dalam tentang kehampaan yang dirasakan ketika manusia jauh dari Sang Pencipta.
Lewat lirik yang jujur dan kontemplatif, lagu Kesepian menggambarkan perjalanan seorang hamba yang menyadari dosa masa lalu dan memutuskan untuk kembali bersimpuh, mencari ampunan serta kedamaian.
Aransemen megah namun tetap intim, dengan sentuhan string dan piano yang emosional, semakin memperkuat suasana perenungan yang ingin disampaikan.
Lagu Serupa Embun dan Kesepian menunjukkan spektrum musikal dan spiritual Inggit A Wulan yang semakin matang.
"Serupa Embun menjadi pengingat untuk bersyukur dalam setiap fase kehidupan, sementara Kesepian hadir sebagai refleksi mendalam tentang makna pulang dan tobat," kata Inggit dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Rabu (4/3).
Lagu Serupa Embun dan Kesepian membentuk narasi utuh tentang perjalanan manusia antara dunia yang sementara dan kerinduan akan ketenangan sejati.
Melalui dua lagu itu, Inggit berharap para pendengar dapat menemukan kekuatan, kedamaian, dan pengingat bahwa dalam setiap kesabaran selalu ada makna, dan dalam setiap penyesalan selalu ada kesempatan untuk kembali.





